I’JAZ AL-‘ILMI DI
DALAM AL-QUR’ÂN
A.
PENDAHULUAN
Al-Qur’ân al-Karim merupakan kitab hidayah dan i`jaz
(melemahkan manusia untuk mendatangkan dalil semisal al-Qur’ân), maka
disebabkan oleh kedua alasan itulah ia diturunkan, dengan kedua metode itu ia
berbicara, dan berdasarkan kedua faktor tersebut ia berdalil
Pembahasan mukjizat ilmiah
dari ayat-ayat kauniyah (yang menyebutkan tentang fenomena alam) dalam al-Qur’ân
sangat berkaitan dengan gejala-gejala alam dan keterangan hadis Nabi terhadap
ilmu ini, sehingga termasuk ke dalam bidang ilmu tafsir yang lebih dikenal
dengan tafsir ‘ilmi.[1] Tafsir
‘ilmi begitu berkembang di zaman ilmu pengetahuan modern seperti sekarang
ini, yang menjadi salah satu uslub tersendiri dalam dakwah kepada Allah,
di mana Allah membukakan begitu banyak rahasia-rahasia alam dan penciptaan,
yang membuat manusia begitu terpesona dengan semua ilmu-ilmu tentang alam dan
hasil-hasilnya.[2]
Meskipun termasuk ke dalam kajian tafsir, tetapi al-i’jâz al-‘ilmi tetap
tidak bisa disamakan dengan tafsîr al-ilmi.[3] Tetapi
apa yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa sesungguhnya Allah tidak
menurunkan Al-Qur’ân untuk menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia
mengenai teori-teori ilmiah, problem-problem seni dan aneka warna pengetahuan.[4]
Untuk mengungkap al-i’jâz
al-‘ilmi dan segala permasalahan yang terkait dengannya, penulis akan
mencoba menguraikannya di dalam makalah singkat yang berjudul: AL-I’JAZ
AL-‘ILMI DI DALAM AL-QUR’ÂN
Adapun pembahasan
makalah ini meliputi: a. pengertian i’jâz al-‘ilmi, b. Motifasi
al-Qur’ân Terhadap Pengembangan Pengetahuan, dan c. Bentuk-bentuk al-i’jâz
al-‘ilmi di dalam al-Qur’ân.
B.
MUKJIZAT ILMIAH/ Al-I’JÂZ AL -‘ILMI
DI DALAM AL-QUR’ÂN
- Pengertian dan Tujuan I’jaz al-‘Ilmi Al-Qur’ân
Kata mukjizat معجزة tidak ditemukan di dalam al-Qur’ân.
Ditinjau dari aspek sejarah, istilah ini baru muncul pada akhir abad kedua atau
awal abad ke tiga Hijriah. Istilah senada yang biasa dipakai al-Qur’ân adalah: الأية , البينة ,atau البرهان [5]
Mukjizat secara
etimologis adalah isim fâ’il/ kata benda subjek berasal dari kata al-‘ijâz,
mashdar dari kata a’jaza yang artinya melemahkan atau mengalahkan. Contoh
sebagai berikut:
عجز فلان عن الأمر, واعجزه
الأمر اذا حاوله فلم يستطعه, ولم تتسع له مقدرته وجهده
(“Fulan lemah di dalam urusan
ini, dan ia dikalahkan oleh urusan ini ketika ia berusaha, ia tidak mampu dan
daya upayanya tidak mampu mengatasi permasalahan”)[6]
Pelakunya disebut
dengan mu’jiz dan apabila kemampuannya melemahkan pihak lain amat
menonjol sehingga mampu membungkam lawan ia dinamai mu’jizah. Tambahan ta
marbuthah ( ة ) pada akhir kata itu mengandung makna mubalaghah
(superlatif)[7].
Di dalam Lisan al-‘Arab dijelaskan jika عجز: العجز
نقيض الحزم (Lemah
yang telah hilang kekuatannya)[8]
Secara terminologi,
menurut Imam Suyûthiy mukjizat dalam pemahaman syara’ adalah kejadian
yang melampaui batas kebiasaan, didahului tantangan tanpa adanya tandingan,
baik indrawi maupun rasio ( امر خارق للعادة مقرون بالتحدي, سالم عن المعارضة
وهي اما حسية واما عقلية ).[9] Ibn
Khaldun berpendapat bahwa mukjizat adalah perbuatan yang tidak dapat ditiru
oleh manusia. Maka ia dinamakan mukjizat, tidak mampu dilakukan oleh hamba, dan
berada di luar standar kemampuan manusia.[10] Quraish
Shihab memberikan defenisi mukjizat dengan “suatu hal atau peristiwa luar biasa
yang terjadi melalui seseorang nabi, sebagai bukti kenabiannya yang
ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa,
namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.
Sedangkan yang dimaksud dengan i’jaz
ilmi adalah terjadinya kecocokan antara realita ilmiah dengan nas-nas
kauniyah yang termaktub di dalam al-Qur'ân[11]. Mukjizat
ini bertujuan untuk menegaskan akan kebenaran al-Qur’ân, sehingga ia akan
menjadi jawaban terhadap orang yang mempertanyakan kebenarannya, membantah
terhadap orang yang menentangnya serta semakin mengokohkan hati orang yang
telah berpegang dengannya. Mukjizat ilmiah secara tidak langsung merupakan
janji Allah lewat firman-Nya
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا
فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
Artinya: “Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka
sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar”
Dahulu, arti Al-Qur’ân telah dipahami
oleh para sahabat, hanya saja mereka belum mengetahui sebagian bentuk
kongkritnya. Padahal Allah telah menjanjikan akan menyingkap hal tersebut di
kemudian hari.
إِنْ هُوَ إِلَّا
ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ * وَلَتَعْلَمُنَّ
نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
Artinya: “Al Qur'an ini tidak
lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan
mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur’ân setelah beberapa waktu lagi.”
- Motifasi Al-Qur’ân Terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Islam sangat memotifasi umatnya untuk selalu
mengembangkan pengetahuan. Bahkan ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu
yang utama. Rujukan yang paling menakjubkan dan fakta paling penting mengenai
hal ini adalah ayat-ayat al-Qur’ân yang turun paling awal, dan yang mendorong
manusia untuk mencari serta menjunjung tinggi pengetahuan itu. Pada hakekatnya
bagian permulaan dari wahyu menjadi pertanda bagi fajar ilmu pengetahuan, dan
jadi pelopor pemberi kedudukan terhormat kepada ilmu pengetahuan.[12] Ayat yang
pertama turun itu berbunyi:
ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
Artinya: Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Iqra terambil dari akar kata yang berarti “ menghimpun”, dari
menghimpun lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menela’ah, mendalami,
meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik tertulis maupun tidak.
Wahyu pertama tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’ân menghendaki agar umatnya membaca apa saja selama bacaan itu bismi-Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.[13]
Wahyu pertama tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’ân menghendaki agar umatnya membaca apa saja selama bacaan itu bismi-Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.[13]
Bukti lain menunjukkan
perhatian besar Islam terhadap hal ini adalah banyaknya motifasi al-Qur’ân untuk
memberdayakan akal melalui ungkapan ayat seperti: افلاتعقلون, افلا
تتفكرون, افلا تتذكرون, افلا يتدبرون, افلا ينظرون dan
kata semisal lainnya
Kata افلاتعقلون/ افلايعقلون diulang
di dalam al-Qur’ân sebanyak 9 kali, Kata افلا يتدبرون diulang sebanyak 2 kali, kata افلا تتذكرون/ افلا تذكرونdiulang
sebanyak lebih kurang 9 kali, kata افلا تتفكرون/ افلا يتفكرون diulang sebanyak 2 kali dan
kata افلا
ينظرون sebanyak satu kali (ini semua
belum termasuk yang datang dalam bentuk fi’il Amr, istifham dengan kata
اولم serta tarâji dengan kata لعلكم/لعلهم).
Kata
ta’aqqul, tafakkur, tadzakkur dan tadabbur, nazhar, ta’ammul,
Istibshar/tabasshur merupakan istilah-istilah yang bermakna pemberdayaan
akal. Menurut Yusuf Al-Qardhawiy kata Tafakkur memberi pengertian
akumulasi ilmu pengetahuan dan mencari apa yang belum diketahui. Sedangkan kata
Tadzakkur memberi pengertian pengulangan di dalam hati terhadap apa yang
telah diketahui untuk lebih menguatkan dan memantapkannya sehingga tidak lenyap
dan terhapus dari hati sama sekali.[14]
Disebut
tafakur karena ia menggunakan pemikiran untuk mencapainya dan
memikirkannya. Dinamakan tadzakkur karena ia menghadirkan ilmu yang
harus ia pelihara setelah ia melupakan dan melalaikannya. Dinamakan nazhar
karena ia mengarahkan hati untuk berkonsentrasi pada objek yang sedang
diperhatikan. Disebut ta’ammul karena ia mengulang-ulang pemikiran
hingga menemukan kebenaran dalam hatinya. Dinamakan iktibar karena ia
menyeberangkan dia dari satu tempat ke tempat lain, yaitu memindahkannya dari
pengetahuan yang sedang ia pikirkan menuju pengetahuan ketiga. Oleh karena itu,
dinamakan ‘ibrah, diungkapkan dalam bentuk jadian untuk menunjukkan
suatu kondisi atau kata keterangan, menunjukkan bahwa ilmu dan pengetahuan ini
telah menjadi kondisi bagi orang tersebut yang menyeberangkannya menuju objek
yang dimaksudkan. Allâh berfirman:
¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ZouŽö9Ïès9 `yJÏj9 #Óy´øƒs† ÇËÏÈ
Artinya: Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).
Disebut tadabbur karena ia merupakan
suatu usaha memikirkan akibat-akibat setiap masalah, yaitu sesuatu yang akan
terjadi setelah dilakukannya suatu perbuatan. Juga dinamakan istibshar
yaitu bentuk wazan istif’al dari term tabashshur yang bermakna
mengungkapkan sesuatu dan menyingkapkannya serta memperlihatkannya kepada
pandangan hati.[15]
Diantara ayat-ayat yang memberi motifasi pengembangan
Ilmu Pengetahuan adalah:
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad):
lakukanlah nadzar (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah) mengenai apa
yang ada di langit dan di bumi ...”( QS. Yunus ayat 101)
قَدْ
خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ الْمُكَذِّّبِيْنَ
Artinya: Sesungguhnya telah berlalu
sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan
perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS.
Ali Imran: 137)
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ
تُبْصِرُوْنَ
Artinya: Dan (juga) pada dirimu
sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Az-Zariyat: 21)
Nazhar adalah mempraktekkan metode, mengadakan
observasi dan penelitian ilmiah terhadap segala macam peristiwa alam di seluruh
jagad ini, juga terhadap lingkungan keadaan masyarakat dan historisitas
bangsa-bangsa zaman dahulu.
Sedangkan perintah
untuk melakukan penelitian secara jelas terdapat dalam QS. Al-Ghasiyah, ayat
17-20:
أَفَلاَ
يَنْظُرُوْنَ
إِلَى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ
كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
Artinya: Maka apakah mereka tidak
memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia
ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan? (QS. Al-Ghasiyah: 17-20)
Dari ayat-ayat tersebut, maka muncullah di lingkungan
umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran,
sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif seperti yang berkembang di
Yunani, melainkan memiliki ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains.
Singkat kata Allah, melalui Al-Qur’ân sangat memotifasi hambaNya untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan.
- Bentuk-bentuk I’jaz al-‘Ilmi di dalam Al-Qur’ân
Sesungguhnya ramai ulama berpendapat bahwa i`jaz
Al-Qur’ân pada abad ke-20 ialah i`jaz ilmi-nya. Ini karena banyak
ayat-ayat yang mengandung hakikat ilmiah yang luput dari perhatian dan tidak
disadari oleh golongan terdahulu, dan tidak jelas maknanya melainkan selepas
keputusan-keputusan ilmiah dihasilkan. Maka dari sini bermula usaha-usaha untuk
menggali ayat-ayat Al-Qur’ân dengan pendekatan tafsir ilmi. Namun
menurut pendapat Yusuf al-Qardhawy,[16] hakikat
i`jaz ilmi dalam Al-Qur’ân sebenarnya hanyalah kemukjizatan secara
retoris, di mana tidak ada pertentangan ayat Al-Qur’ân yang telah turun 14 abad
lalu, dengan berbagai penemuan sains kontemporer, bahkan sebahagian telah
dinyatakan Al-Qur’ân secara global. Sekiranya Al-Qur’ân itu merupakan kitab
yang dikarang manusia dan disusun oleh akal mereka, tentulah
ungkapan-ungkapannya tidak mampu meliputi segala zaman yang berbeda-beda dan
mengikuti perkembangan manusia. Karena itu pijakan kita dalam menetapkan i`jaz
ilmi ini mestilah terhadap masalah-masalah yang sudah jelas dan baku,
yang tidak mengundang keraguan dan kesangsian.
Adapun bentuk-bentuk I’jâz al-‘Ilmi dari al-Qur’ân,
-sebagaimana ia sangat menjadi perhatian pada zaman belakangan ini- adalah:[17]
a.
Kecocokan yang mendasar antara
keterangan-keterangan al-Qur’ân dengan hakikat-hakikat pengetahuan alam yang
diungkap oleh para ilmuan.
b.
Pelurusan al-Qur’ân terhadap
pemikiran-pemikiran batil yang telah tersebar pada beberapa generasi berbeda
mengenai rahasia penciptaan.
c.
Jika dirangkum keterangan al-Qur’ân, akan
di dapati antara satu ayat dengan ayat lainnya saling melengkapi, sehingga
tampaklah kebenaran-kebenaran ilmiah, padahal jika diteliti lebih lanjut antara
ayat-ayat tersebut turun secara terpisah pisah.
d.
Adanya hikmah-hikmah al-Qur’ân yang tidak
terungkap ketika awal turun al-Qurân, tetapi justru terungkap seiring
dilakukannya penelitian-penelitian di lapangan ilmu pengetahuan yang beragam.
e.
Tidak adanya pertentangan antara
keterangan al-Qur’ân mengenai sesuatu hal dengan hasil penelitian-penelitian
ilmiah. Ini berbeda dengan kitab suci lain, yang antara keterangannya terkadang
terdapat kontradiktif dengan realitas ilmiah.[18]
Hal yang lima ini tidak akan mungkin di dapati di
dalam kitab-kitab karya manusia, apalagi dugaan orang kafir yang mendakwahkan
kalau al-Qur’ân adalah karya Nabi yang ummy.
Di antara contoh bentuk-bentuk mukjizat ilmiah al-Qur’ân
adalah dalam pembahasan ihwal reproduksi manusia/ ilmu embriologi, astronomi,
geologi, fisika, kimia dan berbagai ilmu lainnya. Di sini penulis akan
tampilkan beberapa contoh singkat mengenai bentuk-bentuk kemukjizatan tersebut:
a.
Ihwal Reproduksi/ Embriologi
Proses penciptaan manusia dijelaskan oleh ayat al-Qurân
di antaranya:
/ä3s)n=s{ `ÏiB
<§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur
§NèO Ÿ@yèy_ $pk÷]ÏB $ygy_÷ry—
tAt“Rr&ur /ä3s9 z`ÏiB
ÉO»yè÷RF{$# spuŠÏZ»yJrO 8lºurø—r&
4
öNä3à)è=øƒs† ’Îû ÈbqäÜç/ öNà6ÏG»yg¨Bé& $Z)ù=yz .`ÏiB
ω÷èt/ 9,ù=yz ’Îû ;M»yJè=àß
;]»n=rO 4
ãNä3Ï9ºsŒ
ª!$# öNä3š/u‘
çms9 à7ù=ßJø9$# (
Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd
(
4’¯Tr'sù tbqèùuŽóÇè? ÇÏÈ
Artinya: Dia menciptakan kamu dari
seorang diri Kemudian dia jadikan dari padanya isterinya dan dia menurunkan
untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan
kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang
(berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan.
tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?
Menurut embriologi yang baru terungkap abad 20 ini,
proses kejadian manusia terbagi dalam tiga periode, Selama 9 bulan janin
dalam rahim ibu, sebagai bahasa medis disebut trimester 1, 2 dan 3. Semua ini
sesuai dengan apa yang telah disebutkan al-Qurân yang mulia. Dari segi embriologi, sesuatu sperma/gamet jantan bertemu dengan
telur/gamet betina untuk menghasilkan zigot yang akan berubah menjadi embrio
dan berpindah kepada uterus/rahim dan berkembang serta tumbuh menjadi janin.
Inilah kegelapan pertama sebagaimana yang disebutkan al-Qur’ân, atau trimester
pertama sebagai istilah medis (bagi 3 bulan pertama). Pada kegelapan kedua atau
trimester kedua, janin ini membesar lagi dan telah mempunyai wajah, telinga,
mulut, hidung dan anggota kaki dan tangan. Pada kegelapan ketiga (trimester
ketiga) janin masuk bulan ke-7 sampai bulan ke-9 dan dilahirkan sebagai bayi
sempurna.[19]
Sedangkan terkait dengan proses pertumbuhan janin di
dalam rahim lebih rincinya dijelaskan oleh ayat lain Sebagai berikut:
1)
Sperma. terdapat paling tidak tiga ayat
yang bercerita tentang sperma, yaitu
-
Surah al-Qiyâmah: 36-39
Ü=|¡øts†r& ß`»|¡RM}$# br& x8uŽøIム“´‰ß™ ÇÌÏÈ óOs9r& à7tƒ ZpxÿôÜçR `ÏiB %cÓÍ_¨B 4Óo_ôJムÇÌÐÈ §NèO tb%x. Zps)n=tæ t,n=yÜsù 3“§q|¡sù ÇÌÑÈ Ÿ@yèpgmú çm÷ZÏB Èû÷üy_÷r¨“9$# tx.©%!$# #Ós\RW{$#ur ÇÌÒÈ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar