Rabu, 02 November 2011

BENCANA ALAM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN


BENCANA MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN

A.    Pendahuluan
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pandangan al-Qur’an mengenai bencana, yang meliputi bentuk-bentuk bencana serta Penyebab dan maksud diturunkannya bencana tersebut.
Pembahasan akan dimulai dengan penjelasan secara sepintas mengenai makna bencana, kemudian barulah masuk ke dalam pembahasan pokok dari makalah ini, seperti term-term yang dipakai al-Qur’an untuk menunjukkan bencana, bentuk-bentuk bencana, Penyebab dan maksud diturunkannya bencana. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jauh, penulis akan merujuk ke dalam berbagai kitab tafsir seperti Tafsîr al-Misbah, Tafsîr al-Marâghiy dan Tafsîr ibn Katsîr serta berbagai kitab tafsir lainnya. Khusus untuk menjelaskan berbagai istilah-istilah penting  yang berhubungan dengan ayat al-Qur’an penulis akan lebih banyak merujuk ke dalam kitab Mufradât Alfâdz al-Qur’ân karya al-Ashfahâniy.
B.     Bencana dan Pembagiannya
1.      Pengertian Bencana
Bencana  secara etimologis adalah sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusahan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya, dan dapat juga berarti  gangguan, godaan serta tipuan.[1] Kata bencana selalu identik dengan sesuatu dan situasi negatif yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata disaster. Disaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi.
1
 
Pengertian bencana atau disaster menurut Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment[2] (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan).
Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dijelaskan bahwa Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.[3]
2.      Bentuk-bentuk Bencana
Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dijelaskan beberapa macam bencana diantaranya:
a.       Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.[4]
Menurut G. Bankoof, bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. menurutnya Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.[5]
b.      Bencana nonalam, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian  peristiwa  nonalam  yang  antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c.       Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.[6]

3.      Bencana Menurut Perspektif al-Qur’an
a.       Term-term yang Digunakan al-Qur’an untuk Mengungkapkan bencana
Di dalam al-Qur’an, terdapat beberapa istilah yang memiliki kaitan erat dengan bencana ini, di antaranya adalah mushîbah, balâ’, ’iqab dan fitnah dan ‘adzâb, sayyiât, ba’s, dharra’.
Kata musibah berasal dari bahasa Arab, مصيبة, yaitu dari kata اصاب - يصيب  yang berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Kata اصاب ini digunakan untuk yang baik dan yang buruk (وأصاب: جاء في الخير والشر).[7] Menurut al-Râghib al-Asfahâniy, asal makna kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) adalah lemparan (al-ramiyyah), kemudian penggunaannya lebih dikhususkan untuk pengertian bahaya atau bencana, seperti yang beliau ungkapkan berikut ini: والمصيبة أصلها في الرمية، ثم اختصت بالنائبة[8] . Ibn Manzhur juga mengartikan mushîbah dengan sesuatu yang menimpa berupa bencana.[9]

Di dalam tafsir Ruh al-Bayân, Isma’il Haqqiy mendefinisikan mushîbah dengan “apa saja yang menimpa manusia, berupa sesuatu yang tidak menyenangkan” ({مُّصِيبَةٌ} هي ما يصيب الإنسان من مكروه).[10]
Sedangkan menurut hadîts Nabi, yang dimaksud dengan mushîbah adalah segala sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang yang beriman. Sebagaimana pada hadîts berikut:
روى عكرمة أن مصباح رسول الله صلى الله عليه وسلم انطفأ ذات ليلة فقال : " إنا لله وإنا إليه راجعون" فقيل : أمصيبة هي يا رسول الله ؟ قال : "نعم كل ما آذى المؤمن فهو مصيبة".[11]
Artinya:
“Ikrimah meriwayatkan bahwa pada suatu malam lampu Rasul Allah Saw pernah mati, lalu beliau membaca: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْنَ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali). Para sahabat bertanya: “Apakah ini termasuk musibah hai Rasulullah?” beliau menjawab, “Ya, apa saja yang menyakiti orang mukmin disebut musibah.”
Al-Qur'an menggunakan kata mushîbah untuk sesuatu sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa musibah merupakan sesatu yang menimpa karena ulah manusia dan atas izin Allah. Ini seperti ditegaskan oleh firman Allah:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ. [الشورى، 42: 30]
Artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. asy-Syura (42): 30]
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. [التغابن، 64: 11]
Artinya:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. at-Taghabun (64): 11]
Sedangkan kata balâ’, pada dasarnya  berarti nyata/tampak,[12] seperti firman Allah:
 يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِلُ. [الطارق، 86: 9]
Artinya:
“Pada hari dinampakkan segala rahasia.” [QS. ath-Thariq (86): 9]
Sesuatu bencana disebut dengan balâ’, karena dengan bencana tersebut dapat menampakkan kualitas keimanan seseorang. Atau dengan kata lain balâ’ juga diartikan dengan ujian[13] (berasal dari kata bala-  yablu)  sehingga dengan adanya bencana tersebut dapat menguji mana yang beriman dan mana yang tidak.  Dari beberapa ayat yang menggunakan kata bala’ dalam berbagai bentuknya dapat diperoleh beberapa hakekat berikut:
1)      Balâ’ (ujian) adalah keniscayaan hidup. Itu dilakukan Allah, tanpa keterlibatan manusia yang diuji dalam menentukan cara dan bentuk ujian tersebut. Yang menentukan cara, waktu, dan bentuk ujian adalah Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
اَلَّذِي خَلَقَ اْلمَوْتَ وَالحْيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ العَزِيْزُ الْغَفُوْرُ. [الملك، 67: 2]
Artinya:
“(Dia) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu (melakukan bala’), siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. al-Mulk (67): 2]
Karena balâ’ adalah keniscayaan bagi manusia mukallaf, maka tidak seorang pun yang luput darinya. Semakin tinggi kedudukan seseorang semakin berat pula ujiannya, karena itu ujian para nabi pun sangat berat. Dikarenakan balâ’ adalah keniscayaan hidup, maka ada pula balâ’ (ujian) tersebut berupa sesuatu yang menyenangkan. Adapun contoh dari balâ’ (ujian) yang menyenangkan adalah anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Sulaiman yang menyadari bahwa fungsi nikmat tersebut adalah sebagai ujian.
هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ. [النمل، 27: 40]
Artinya:
“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku (melakukan bala’), apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” [QS. an-Naml (27): 40]
2)      Anugerah/nikmat yang berupa ujian itu, tidak dapat dijadikan bukti kasih Allah sebagaimana penderitaan tidak selalu berarti murka-Nya. Hanya orang-orang yang tidak memahami makna hidup yang beranggapan demikian. Hal ini antara lain ditegaskan-Nya dalam QS. al-Fajr (89): 15-17:
فَأَمَّا اْلإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلاَّ بَل لاَّ تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ. [الفجر، 89: 15-17]
Artinya:
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” [QS. al-Fajr (89): 15-17]
3)      Balâ’ (ujian) yang menimpa seseorang dapat merupakan cara Allah mengampuni dosa, mensucikan jiwa, dan meninggikan derajatnya. Dalam perang Uhud tidak kurang dari tujuh puluh orang sahabat Nabi Muhammad saw yang gugur. Al-Qur'an dalam konteks ini membantah mereka yang menyatakan dapat menghindar dari kematian sambil menjelaskan tujuannya:
قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ. [آل عمران، 3: 154]
Artinya:
“Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumah kamu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (melakukan bala’) apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” [QS. Ali Imran (3): 154]
Adapun kata yang satu turunan dengan kata fitnah dalam al-Qur’an mengandung banyak arti, di antaranya:
1)      Membakar dalam neraka, membakar dalam arti dimasukkan ke dalam
2)      Menyiksa atau siksaan
3)      Kesesatan atau dosa
4)      Gila
5)      Serta Ujian atau cobaan, baik berupa nikmat maupun kesulitan.[14]
Arti fitnah yang terakhir itulah yang kemudian akan digunakan untuk memahami makna bencana dalam al-Qur’an.
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ. [الأنفال، 8: 28]
Artinya:
“Dan ketahuilah, bahwa harta kamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. al- Anfal (8): 28][15]
Bahkan pada QS. al-Anbiya’: 35 Allah mempersamakan antara kata balâ’ dan fitnah. Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوَكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. [الأنبياء، 21: 35]
Artinya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan  menguji kamu (melakukan bala’) dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan/ fitnah (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [QS. al-Anbiya’ (21): 35]
Ini berarti bahwa fitnah/cobaan diturunkan Allah sebagai peringatan, dan tentu saja apabila peringatan tidak juga diindahkan—setelah berkali-kali— maka adalah wajar menjatuhkan tindakan yang lebih keras. Dalam konteks uraian tentang fitnah, al-Qur'an menggarisbawahi bahwa fitnah tidak hanya ditimpakan kepada orang-orang kafir/zalim saja, melainkan juga  kepada mereka yang taat kepada-Nya:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [الأنفال، 8: 25]
Artinya:
“Dan peliharalah diri kamu dari pada siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” [QS. al-Anfal (8): 25]
Ayat di atas menggunakan tiga kata yang kesemuanya dapat berarti sesuatu yang tidak menyenangkan. Yaitu kata fitnah, tushibanna yang seakar dengan kata mushîbah, serta ‘iqâb yang terambil dari kata ‘aqiba yang berarti belakang/kesudahan. Kata ‘iqab digunakan dalam arti kesudahan yang tidak menyenangkan/ sanksi pelanggaran. Berbeda dengan ‘aqibah/ akibat yang berarti dampak baik atau buruk dari satu perbuatan. Dan dari ayat di atas dapat difahami bahwa fitnah dapat menimpa orang yang tidak bersalah.[16]
Beberapa kesimpulan yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, antara lain adalah bahwa musibah terjadi atau menimpa manusia akibat kesalahan manusia sendiri, bala’ merupakan keniscayaan dan dijatuhkan Allah SWT, walau tanpa kesalahan manusia. Adapun fitnah, maka ia adalah bencana yang dijatuhkan Allah dan dapat menimpa yang bersalah dan tidak bersalah.
Di samping tiga istilah kunci di atas penulis juga akan menelusuri ayat-ayat yang mengungkap bencana ini lewat kata-kata yang berhubungan langsung bencana tersebut seperti  سيل، طوفان، رجفة، صاعقة (banjir, topan, gempa, petir).
b.      Bentuk-bentuk Bencana yang Terdapat al-Qur’an
Di dalam al-Qur’an telah diisyaratkan berbagai bencana yang pernah terjadi, di antaranya adalah bencana alam, bencana non alam serta bencana kemanusiaan.
Di antara bencana alam yang pernah dijelaskan al-Qur’an adalah banjir, topan,  gempa dan petir dan hujan batu.
1)      Banjir dan topan
Di dalam al-Qur’an istilah banjir disebutkan dengan istilah al-sail. Menurut al-Ashfahâniy, kata al-Sail secara bahasa merupakan mashdar dari kata سال yang penggunaannya digunakan untuk menunjukkan air yang melanda manusia, yang –air tersebut bukan- dari hujan ([17]سال... والسيل أصله مصدر، وجعل اسما للماء الذي يأتيك ولم يصبك مطره), dan bentuk jamak dari kata al-sail adalah al-suyûl.[18]
Selain itu istilah banjir juga digunakan dengan istilah طوفان dan طغى الماء . Kata thûfân adalah segala peristiwa atau kejadian yang meliputi/mengepung. Maka banjir juga disebut dengan thûfân karena air yang datang waktu itu memang mengepung manusia. Ini penulis simpulkan dari Mufradat Alfadz al-Qur’an, seperti pada kutipan berikut ini:
 “والطوفان: كل حادثة تحيط بالإنسان، وعلى ذلك قوله: {فأرسلنا عليهم الطوفان} [الأعراف/133]، وصار متعارفا في الماء المتناهي في الكثرة لأجل أن الحادثة التي نالت قوم نوح كانت ماء[19]
Sedangkan طغى الماء /air yang melampaui batas juga dapat diartikan dengan banjir. Pada Kata tagha berarti melampaui batas di dalam kemaksiatan (تجاوز الحد في العصيان). Istilah tagha ini tidak hanya dikhususkan kepada manusia, melainkan juga air. Maka banjir dapat juga disebut sebagai air yang melampaui batas kewajaran. Ini penulis fahami dari kutipan berikut ini:
أن الطغيان لا يخلص الإنسان، فقد كان قوم نوح أطغى منهم فأهلكوا. وقوله: {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11]، فاستعير الطغيان فيه لتجاوز الماء الحد، وقوله: {فأهلكوا بالطاغية} [الحاقة/5]، فإشارة إلى الطوفان المعبر عنه بقوله: {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11][20]
“… tughyân tidak terbatas dilakukan oleh manusia, dan sungguh kaum Nuh  mereka ditimpa oleh sesuatu yang berlebihan, yang menyebabkan mereka hancur, seperti firman Allah {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11], dan kata tughyan dipakai untuk air yang melampaui batas, seperti pada ayat  {فأهلكوا بالطاغية} [الحاقة/5], maksudnya adalah thûfân. Seperti pada ayat: {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11]
Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa kisah yang erat kaitannya dengan banjir ini. Di antaranya adalah banjir yang terjadi pada masa Nabi Nuh, Umat Nabi Musa  dan bangsa Saba
1)      Banjir Zaman nabi Nuh
Peristiwa Banjir yang menimpa umat nabi Nuh digambarkan oleh ayat berikut:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
Artinya:
Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. 29:  14
Umat nabi Nuh ditimpa oleh banjir yang sangat dahsyat, sehingga digambarkan di dalam surat (QS. Hud: 42) bahwa gelombang pada waktu itu menyerupai sebuah gunung.[21] Demikianlah gambaran betapa dahsyatnya banjir yang terjadi di waktu itu.
Adapun penyebab dari banjir ini, dijelaskan oleh ujung ayat, bahwa semua itu terjadi akibat kezaliman dari umat nabi Nuh itu sendiri. Secara hukum alamnya, air tersebut berasal dari dua arah yaitu air yang berasal dari air hujan serta air yang berasal dari lautan/bumi. Karena itu ketika  peristiwa banjir itu akan selesai Allah berfirman:
وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan[720] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi[721], dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ." (QS. Hud: 44)

Peristiwa banjir yang menimpa umat nabi Nuh ini dipahami oleh Quraish Shihab dengan bencana Tsunami, seperti bencana yang menimpa bangsa Indonesia belakangan ini. Beliau berdalil dengan QS. Hud: 40
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَا ءَامَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Hingga apabila perintah kami datang dan periuk telah mendidih,[22] kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”
Kata فَارَ التَّنُّورُ /””periuk mendidih” dipahami sebagai bumi yang bergoncang (gempa terjadi serupa dengan periuk yang menggelegar karena mendidihnya air). Menurut Quraish Shihab ini menggambarkan bahwa banjir yang melanda umat Nabi Nuh didahului oleh peristiwa gempa bumi.[23] Sehingga tepat dikatakan bahwa tersebut adalah rangkaian peristiwa tsunami. 
Bagi umat nabi Nuh yang taat, tatkala air tersebut telah mencapai puncaknya, Allah menyelamatkan mereka dengan menyuruh mereka naik ke bahtera yang telah dibuat Nabi Nuh sebelumnya (QS. Al-Haqqah: 11-12)   
   
2)      Banjir Zaman Nabi Musa
Bencana banjir yang menimpa umat yang hidup di zaman nabi Musa/pendukung Fir’aun adalah seperti yang terdapat di dalam ayat berikut:
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ ءَايَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
Artinya
Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”(QS: al-A’raf: 133)
Menurut al-Marâghi, sebagai tanda kenabian bagi nabi Musa terhadap umatnya yang tidak patuh, maka Allah mengirimkan kepada mereka 5 buah bencana, yang salah satunya adalah thûfân. Thûfân menurut beliau adalah banjir yang sangat dahsyat yang terjadi karena hujan yang sangat lebat  dan menenggelamkan negri mereka. Hujan tersebut juga disertai dengan cuaca yang sangat dingin.[24] Bahkan Quraish Shihab menjelaskan bahwa  banjir ketika itu juga disertai dengan kilatan guntur dan api, sehingga gambaran bencana di waktu itu betul-betul sangat dahsyat.
Selain dari banjir di dalam ayat ini juga dijelaskan jenis bencana lain yang menimpa mereka yaitu berupa wabah belalang, katak dan penyakit. Sehingga pengikut Fir’aun betul-betul merasakan iqab yang sangat berat dan akhirnya mereka memohon kepada Nabi Musa untuk didoa’kan agar mereka diampuni oleh Allah (QS. al-‘A’raf: 134-135). Dan di antara dosa yang pernah dilakukan umat Nabi Musa ini adalah karena telah mempersekutukan Allah, tidak mensyukuri nikmat serta menganggap Nabi Musa sebagai orang yang membawa sial (QS. al-‘A’raf: 131).   


3)      Banjir pada masa Saba’
Kerajaan Saba’ merupakan suatu kerajaan yang hidup di bawah pimpinan ratu Saba’, yang hidup di daerah Yaman Selatan. Kerajaan ini berkuasa pada abad VIII SM, yang wilayah kekuasaannya meliputi Ethiopia dan salah satu negri yang cukup terkenal ketika itu yaitu Ma’rib dengan kandungan yang sangat besar. Pada awalnya kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang dianugrahi nikmat yang berlimpah, berupa kebun-kebun yang subur.[25]
Adapun yang menjadi perintah Allah bagi kaum ini yaitu supaya mereka memakan  dari rezki yang halal serta dituntut untuk mensyukuri nikmat Allah (QS. Saba’: 15). Namun justru kaum ini berpaling, sehingga Allah menghukum mereka dengan banjir yang menghancurkan seluruh ladang mereka, seperti yang dijelaskan ayat berikut:
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
Artinya:
Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS.Saba’: 34: 16)
Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa bencana yang ditimpakan Allah adalah sail al-‘arim. Sail berarti banjir dan kata ‘arim terdapat beberapa perbedaan penafsiran di antaranya: a. kata ini terambil dari kata ‘aramah (keras atau besar), b. ‘arim dianggap sebagai nama dari banjir tersebut, dan. c. ‘arim bermakna tempat yang dibangun untuk menampung air/bendungan.[26]
Meski terdapat perbedaan pemahaman mengenai kata ‘arim ini, namun ketiga makna ini menunjukkan jika banjir yang menimpa kerajaan Saba’ adalah banjir yang sangat dahsyat.
Adapun alasan kenapa Allah menurunkan banjir ini berdasarkan ayat berikutnya dari Surat Saba’ ini adalah karena akibat dari kekafiran manusia. (QS. Saba’:17)  
2)      Gempa
Di dalam al-Qur’an gempa disebut dengan istilah rajfah. Kata rajfah atau rajf adalah bahasa Arab yang artinya الاضطراب الشديد (goncangan yang sangat dahsyat). Kata rajfah ini dipakai untuk berbagai goncangan baik di darat maupun di laut seperti pada perkataan, “رجفت الأرض ورجف البحر” (bumi dan berguncang, dan laut berguncang).[27] Di dalam al-Qur’an penggunaan kata rajfah ini ada yang menunjukkan makna gempa, dan adapula yang bermakna goncangan dahsyat yang ada kaitannya dengan huru-hara kiamat. Di antara peristiwa gempa yang pernah diabadikan oleh al-Qur’an adalah gempa yang pernah menimpa umat Nabi Shaleh (Tsamud[28]) dan umat Nabi Syu’aib (Madyan) serta umat Nabi Musa. Adapun gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh adalah seperti yang terdapat di dalam ayat:    
فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَاصَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ(77)فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
Kemudian mereka sembelih onta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (al-A’raf: 77-78)
Kepada Kaum Tsamud Allah telah mengutus seorang rasul yang bernama Shaleh. Ia diutus untuk memberi peringatan kepada umatnya yang berlaku sombong dan cenderung mengabaikan perintah Allah (Qs. Al-Dzariyat: 44).  Namun kedatangan Shaleh sebagai pembawa peringatan justru tidak membawa arti apa-apa, karena mereka tetap saja engkar, bahkan mereka menghina Shaleh dan menganggapnya sebagai seorang kadzdzab (pembohong) dan atsir (sombong).[29] Ketika keengkaran mereka semakin menjadi-jadi maka  Allah menguji mereka dengan seekor nâqah/onta. Di mana antara mereka dan onta tersebut telah di atur pembagian jatah air minum, serta mereka dilarang untuk membunuh onta tersebut, karena dengan membunuh onta tersebut akan dapat mendatangkan azab Allah.[30] Tetapi larangan ini tidak mereka acuhkan, bahkan mereka menantang Nabi Allah untuk mendatangkan azab yang telah diancamkan kepada mereka, sehingga akhirnya Allah mengazabnya dengan gempa yang sangat dahsyat, sedangkan di dalam ayat lain azab tersebut berupa sha’iqah atau shaihah wâhidah (petir). Menurut Quraish Shihab ini menunjukkan bahwa betapa besarnya petir yang terjadi waktu itu sehingga ia tidak hanya menggoncangkan hati orang yang mendengarnya namun juga dapat menggoncang bumi (gempa).[31]    
Sedangkan gempa yang menimpa umat Nabi Syu’aib adalah seperti yang dijelaskan oleh firman Allah (QS. Al-A’raf:: 91)
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
“Kemudian mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (al-A’raf: 91)
Adapun penyebab diturunkannya azab berupa gempa ini adalah karena kedurhakaan mereka terhadap Agama Allah dan perangai mereka  yang merusak tatanan sosial dengan mengurangi takaran dan timbangan dan gemar melakukan kerusakan serta berlaku sombong.  (QS. al-‘A’raf: 85). Peristiwa gempa yang menimpa umat Nabi Syu’aib ini juga ditegaskan pada ayat berikut:
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ


Artinya:
Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (al-Angkabut: 37)
Di dalam ayat-ayat di atas dijelaskan bahwa kondisi mereka yang ditimpa gempa tersebut sungguh sangat memprihatinkan, yaitu digambarkan dengan kata جَاثِمِينَ. Kata جَاثِمِينَ merupakan bentuk jamak dari جَاثِمِ yang bermakna tertelungkup dengan dadanya sambil melengkungkan betis sebagaimana halnya kelinci. Ini merupakan gambaran dari ketiadaan gerak anggota tubuh, atau dengan kata lain ini menggambarkan kematian.[32] Sedangkan menurut al-Biqa’iy kata جاثم bermakna kondisi terpaku dengan tidak bergerak sedikitpun.[33]
Peristiwa gempa tidak hanya melanda dua umat Nabi di atas, namun juga menimpa umat Nabi Musa, sebagaimana  digambarkan oleh ayat al-Qur’an berikut ini.
وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُيَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya:
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan Taubat kepada kami) pada waktu yang Telah kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan Aku sebelum ini. apakah Engkau membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara Kami? itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami, Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya".(al-A’raf: 155)
Di zaman nabi Musa, selain ditimpa oleh lima buah bencana, sebagaimana yang dijelaskan pada ayat sebelumnya, mereka juga pernah ditimpa oleh gempa. Gempa ini tidak hanya menimpa pengikut Fir’aun tetapi juga pengikut Nabi Musa. Menurut ibn ‘Abbas mereka ditimpa oleh gempa karena mereka tidak melarang kaumnya untuk menyembah anak sapi.[34] Pendapat ini juga diperpegangi oleh Muhammad ibn Ka’ab al-Qarzhiy, meskipun beliau hanya mengungkapkan bahwa umat Nabi Musa ini ditimpa musibah karena mereka tidak melaksanakan ‘amar ma’rûf.[35] Dan di dalam ayat ini juga dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang menimpa tersebut tidak hanya sekedar azab bagi umat yang durhaka, melainkan cobaan bagi manusia secara umum. Yaitu apakah mereka akan beriman, atau justru sebaliknya, engkar setelah adanya cobaan tersebut.   
3)      Angin Badai
Angin di dalam bahasa Arab disebut dengan الريح. Ini sebagaimana yang didefenisikan oleh al-Ashfahâniy, menurutnya الريح معروف، وهي فيما قيل الهواء المتهرك[36] (al-rîh adalah istilah yang sudah populer, yaitu sebagaimana dikatakan sebagai udara yang bergerak). Kata al-rîh di dalam al-Qur’an ada yang menunjukkan angin yang membawa rahmat dan ada pula untuk menunjukkan angin yang membawa bencana. Angin yang membawa bencana di dalam al-Qur’an diungkapkan dengan kata الريح  yang disifati dengan berbagai sifat seperti قاصفا، عاسف، عقيم atau dengan kata azab. Kata ‘ashif  pada dasarnya dipakai untuk penyebutan tanaman yang hancur. Dan angin yang disifati dengan ‘ashif ini berarti angin tersebut adalah angin yang dapat menghancurkan apa saja yang mengenainya sebagai mana hancurnya tanaman.[37] Demikian juga dengan qâshif, kata ini juga berarti sesuatu yang dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.[38] Sedangkan ‘aqîm  bermakna gersang. Seseorang disebut dengan aqîm jika ia tidak bisa memiliki anak.[39]
 Bencana angin pernah menimpa umat terdahulu seperti angin yang melanda kaum ‘Ad,[40] sebagaimana yang terdapat di dalam ayat berikut:
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ(6)سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
Artinya:
”Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. al-Haaqqah: 69: 6-7)
Selain ayat ini, di dalam QS. Fushshilat: 16 juga memakai istilahرِيحٍ صَرْصَر. Kata صَرْصَر ada yang memahaminya terambil dari kata  al-shirr dengan meng-kasrah-kan huruf shad, yaitu angin yang sangat dingin yang menusuk ke tulang-tulang, atau dari kata al-shar dengan men-fatah-kan huruf shad, yaitu angin yang sangat panas. Adalagi yang memahami bahwa ia terambil dari kata al-sharrah yaitu bermakna suara yang sangat keras.[41] jadi angin tersebut, demikian dahsyatnya sehingga mengeluarkan suara gemuruh yang sangat keras.
Sebelum angin dingin yang kencang ini melanda kaum ‘Ad mereka menyangka bahwa angin tersebut merupakan kumpulan awan yang akan membawa hujan buat mereka, namun setelah sampai, ternyata ia adalah angin yang sangat dingin sebagai azab buat kaum tersebut, sebagaimana yang terdapat di dalam (QS.Ahqaf: 24).[42] Hal ini berlanjut selama tujuh malam delapan hari sehingga ini membuat mereka mati bergelimpangan. Di dalam ayat di atas kondisi mereka diumpamakan seperti tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk bagian dalamnya. Dan di dalam QS.al-Dzariyat digambarkan kondisi mereka tak obahnya seperti serbuk.      
وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ(41)مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ
Artinya:
Dan juga pada (kisah) Aad ketika kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasahkan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (al-Dzariyat: 41-42)
Adapun tabi’at dari kaum ‘Ad yang diungkapkan oleh al-Qur’an, sehingga mereka ditimpa oleh angin dingin ini, adalah karena mereka adalah umat yang menyombongkan diri di atas bumi (Qs. Ahqaf: 15), sedangkan di dalam Qs. Haqqah: 4 diungkapkan karena mereka umat yang mengingkari hari kiamat. Sedangkan di dalam Qs. al-A’raf: 65-72 juga diungkapkan kesalahan dari kaum ‘Ad ini, yaitu mereka umat yang tidak mengindahkan seruan Nabi Allah Hud as, bahkan mereka menganggap nabi Hud sebagai orang yang kurang akal dan menantang untuk didatangkan azab kepada mereka.
Di samping bencana angin badai yang menimpa kaum ‘Ad di dalam al-Qur’an juga dijelaskan bahwa dengan adanya angin badai  yang dingin ini, Allah juga pernah menghancurkan tentara yang merupakan musuh umat Islam. Ini merupakan salah satu nikmat Allah kepada tentara Islam waktu itu. 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang Telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS: al-Ahzab: 9)
Peristiwa ini terjadi ketika perang Khandak/Ahdzab.[43] Di mana pada waktu itu tentara Islam yang hanya berjumlah 3.000 orang, berperang menghadapi kaum Kafir yang berjumlah 12.000  tentara. Adapun bentuk pertolongan Allah waktu itu, salah satunya adalah lewat angin kencang yang dingin. Angin ini menyerang dan merusak seluruh perbekalan yang mereka bawa.
Meskipun Umat-umat terdahulu pernah dihancurkan oleh Allah dengan angin azab, namun hal ini juga tidak tertutup akan melanda umat-umat yang hidup belakangan, terutama ketika mereka melakukan pelayaran. Di mana pada waktu itu manusia tidak bisa merasa aman dari bahaya badai yang dapat menenggelamkan kapal yang mereka tumpangi. Ini sesuai dengan ayat berikut yang mencela perilaku kaum musyrikîn yang selalu lupa diri setelah mereka diselamatkan oleh Allah dari berbagai azab, baik di daratan maupun di lautan:
أَمْ أَمِنْتُمْ أَنْ يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَى فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْفَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا
Artinya:
“Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal Ini terhadap (siksaan) kami.” (QS: al-Isra’: 69)

4)      Petir
Di dalam al-Qur’an petir disebut dengan istilah صاعقة. Kata صاعقة dalam bahasa Arab berarti الصوت الشديد من الجو (suara yang sangat dahsyat dari udara).[44] Di dalam al-Qur’an penggunaan kata صاعقة ini selain bermakna petir/api ada juga yang berarti kematian, seperti yang terdapat di dalam QS. Al-Zumar: 68.
Di antara peristiwa petir yang pernah diabadikan oleh al-Qur’an adalah petir yang pernah menimpa  bangsa Tsamud, umat Nabi Musa dan Kaum ‘Ad. Adapun petir yang menimpa kaum Tsamud adalah seperti yang terdapat di dalam ayat:
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan adapun kaum Tsamud, Maka mereka Telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang Telah mereka kerjakan. (QS. Fussilat: 17)
وَفِي ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوا حَتَّى حِينٍ(43)فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُونَ
Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: "Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu. Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya. (Qs. Al-Dzariyat: 43-44)
Jika di dalam surat al-A’raf Allah menjelaskan bahwa bencana yang menimpa bangsa Tsamud adalah gempa, maka di dalam ayat ini disebut dengan shâ’iqah/petir. Menurut Quraish Shihab antara keduanya saling memiliki keterkaitan karena begitu kerasnya petir tersebut, sehingga ia tidak hanya menggoncangkan hati orang yang mendengar, namun juga dapat menggoncang bumi dan sekalian bangunan yang ada padanya, Atau yang kita namakan dengan gempa.[45] Jika diperhatikan pendapat Quraish Shihab ini sangat dapat diterima, mengingat, tidak hanya pada kisah Tsamud, melainkan pada kisah Musa juga demikian.[46] Di mana terkadang Allah mengungkapkan azab yang mereka terima adalah shâ’iqah/petir, dan pada ayat lain Allah mengatakannya dengan rajfah/gempa.  
Demikian dahsyatnya peristiwa ini, sehingga pada ayat lain bencana yang diterima bangsa Tsamud ini disebut dengan istilah thâghiyah (QS. Haqqah: 5), yang dapat diartikan dengan teriakan yang luar biasa menggelegar, yakni suara guntur yang bercampur dengan kilat. Sedangkan di dalam Qs. Al-Qamar: 32 bencana tersebut disebut dengan shaihah al-wahidah (suara keras yang mengguntur) sehingga menyebabkan mereka mati bergelimpangan tak obahnya seperti batang-batang yang kering lagi lapuk (hasyîm al-muhtazhir).
Adapun dosa yang dilakukan oleh bangsa Tsamud adalah seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya (ketika mereka ditimpa gempa).
Di dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa petir yang melanda kaum ‘Ad dan Tsamud ini merupakan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi generasi berikut, supaya mereka tidak engkar dan tidak dilanda petir seperti ini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat berikut:
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
Artinya:
Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: "Aku Telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud".(QS. Fussilat: 13)


5)      Hujan Batu
Sebuah bencana yang luar biasa dahsyat yang pernah terjadi adalah hujan batu yang menimpa kaum Luth, sebagaimana yang dijelaskan QS. Hud: 82-83.
 فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ(82)مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
Artinya:
Maka tatkala datang azab kami, kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, 83.  Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

Ketika kaum Luth melakukan tindakan penyimpangan seksual, dan tidak lagi menghiraukan ajakan Luth (QS. al-A’raf: 80-81), maka Allah mendatangkan kepada mereka bencana yang sangat dahsyat. Allah menghancurkan negri tersebut sehancur-hancurnya dengan membalikkannya, yang di dalam ayat di atas diungkapkan dengan istilah “menjadikan yang di atasnya ke bawahnya”. Negri itu semakin hancur setelah Allah menghujani mereka dengan hujan sijjil/batu. Sijjil yaitu batu yang terbuat dari tanah, atau tanah yang bercampur air lalu membeku dan mengeras menjadi batu, sebagaimana yang disebutkan di dalam QS. Al-Dzariyat: 33 dengan sebutan hijarah min thîn. Masing-masing batu yang ditimpakan tersebut telah diberi tanda oleh Allah yang khusus dijadikan untuk menghancurkan umat Luth, yang juga melakukan perbuatan maksiat khusus/di luar fitrah. Menurut banyak ahli tafsir pada masing-masing batu tersebut telah terdapat nama-nama orang yang akan dihancurkannya. Ini sebagaimana yang ditulis oleh ibn Katsir,[47] Qurthûbiy dan mufassir lainnya.    
Di antara yang termasuk bencana yang non alam dan kemanusiaan yang dijelaskan al-Qur’an adalah:
a)     Bencana Kemanusiaan, berupa ketakutan, kela­paran dan kemiskinan seperti di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 156
Bencana kelaparan merupakan sesuatu yang telah sering dan biasa terjadi di dalam peradaban umat manusia. Di Zaman Nabi Musa merekapun juga pernah mengalami kesusahan pangan setelah Allah mengirim kepada mereka hukuman banjir, yang diiringi wabah belalang dan kutu yang merusak tanaman mereka serta katak-katak menghancurkan persediaan logistik yang mereka miliki. Di samping itu mereka juga ditimpa oleh penyakit darah.[48]
Di antara yang dapat menyebabkan bencana kelaparan adalah terjadinya kemarau yang panjang, seperti yang terjadi pada kisah Yusuf. Di mana untuk mengatasi paceklik Yusuf mengusulkan untuk menanami tanaman sebelum masa kemarau itu datang.[49]
Bencana-bencana kekurangan pangan ini boleh jadi merupakan ujian dari Allah (Qs. al-Baqarah: 150) atau merupakan peringatan dan azab karena keingkaran yang dilakukan manusia (QS. Al-Nahl: 112).
b)  Musibah Kematian, seperti Firman Allah dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 106
Di dalam ayat ini Allah mengungkapkan istilah mushibah al-maût yaitu tanda-tanda akan datangnya kematian. Jika hal ini menimpa seseorang yang berada di perjalanan, ia ingin berwasiat dan tidak ada orang yang beriman, maka ia boleh menjadikan saksi selain dari orang yang beriman.
c)     Kekalahan di medan perang
Kekalahan di medan perang menurut al-Qur’an dianggap sebagai sebuah bencana. Sebagai contoh adalah apa yang menimpa umat Islam ketika perang Uhud. Di dalam perang itu tentara Islam mengalami kekalahan dan sekian banyak dari sahabat Nabi meninggal. Ketika itu turun Firman Allah (QS. Ali ‘Imran: 140-141) yang menjelaskan bahwa bencana yang dialami tentara Islam merupakan bala’ dari Allah, sehingga jelas mana yang betul-betul beriman dan mana yang tidak. 

c.       Penyebab dan Maksud Diturunkannya Bencana
Dari penjelasan dan isyarat ayat al-Qur’an, setidaknya bencana yang menimpa manusia dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yaitu:
1)      Bencana/Musibah  tidak terjadi kecuali atas izin Allah
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. [التغابن، 64: 11]
Artinya:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. al-Taghabun (64): 11]
Menurut Sayyid Quthub apa yang diungkapkan di dalam ayat ini merupakan dasar atau hakikat keimanan. Di mana segala sesuatunya terjadi adalah atas izin Allah. Sehingga seseorang yang ditimpa musibah akan sadar bahwa itu semua terjadi adalah atas kehendak Allah. Dengan ini orang yang beriman hatinya akan tetap tenang ketika terjadi bencana, sedangkan bagi yang sempat lalai mereka akan ingat kembali kepada Allah dan senantiasa mengintrospeksi diri atas kesalahan yang diperbuat. Sedangkan terhadap bagi orang yang engkar semuanya ini diturunkan oleh Allah sebagai hukuman atas apa yang telah mereka perbuat.
2)      Musibah Sebagai Dampak Kesalahan Manusia (human eror)
Manusia sebagai penyebab timbulnya musibah digambarkan dengan beberapa istilah di dalam al-Qur’an seperti: karena tangan manusia, karena kezhaliman yang mereka lakukan, karena keengkaran mereka atau dosa yang mereka lakukan, sehingga semuanya itu terjadi sebagai hukuman atas apa yang telah mereka perbuat, baik secara langsung maupun tidak. Ini seperti yang ditegaskan oleh firman Allah berikut:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ. [الشورى، 42: 30]
Artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. al-Syura (42): 30]
Di antara bentuk perbuatan mereka tersebut adalah berbagai dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia, sebagaimana ayat berikut:
أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Artinya:
Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah:49)

Surat al-Syura: 30, menurut ibn ‘Asyur memiliki kaitan yang erat dengan ayat ke-28, yang menguraikan tentang diturunkannya hujan setelah sebelumnya masyarakat Mekah menderita paceklik. Di sini mereka diingatkan bahwa petaka yang mereka alami adalah akibat kedurhakaan mereka terhadap Allah.[50]  Meski ayat ini secara konteks tertuju kepada kafir Mekah, namun dari segi kandungannya tertuju kepada seluruh masyarakat, kapanpun dan dimanapun.  
Maka berbagai bencana yang timbul, pada dasarnya diakibatkan oleh manusia dengan ragam dosa-dosa yang dilakukannya sendiri, al-Qur’an telah membuktikannya, bagaimana Musibah menimpa umat terdahulu karena dosa dan kekafiran mereka.
Kaum Nabi Hud mendustakan Nabinya, maka mereka dibinasahkan oleh Allah dengan angin (QS. al-Hâqqah: 69: 6-7), kaum Nabi Shaleh angkuh, kafir, dan menyembelih onta mukjizat yang tidak boleh diganggu, maka dilanda dahsyatnya bermacam-macam azab, seperti petir dan gempa (QS. Al-A’raf: 77-79), Kaum Nabi Nuh diazab oleh Allah karena kemusyrikan  dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Mereka ditenggelamkan dengan banjir, hingga salah seorang anak Nabi Nuh sendiri, yang bernama Qan’an pun turut tenggelam karena keinkarannya, seperti disebutkan dalam surat Huud : 41-44, Kaum Nabi Luth terlibat praktek penyimpangan seksual hubungan sejenis– sehingga diazab Allah dengan hujan batu panas dan buminya dibalik, sedangkan kaum Nabi Syu’aib di Madyan penduduknya menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan akibat dihantam gempa karena telah meluasnya tindak kecurangan dalam menakar dan menimbang (al-A’raf: 85-94). Begitupun Fir’aun dan kroni-kroninya dihujani bencana beruntun dengan angin topan, belalang, kutu, kodok, dan darah, serta gempa (Al-A’raf: 133-136)
Meski manusia sebagai penyebab diturunkannya musibah, namun pada hakekatnya menurut penulis semua tetap diturunkan oleh Allah. 
3)      Bencana/Musibah bertujuan untuk menempa manusia
Al-Qur'an menegaskan bahwa:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ. [الحديد، 57: 22-23]
Artinya:
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. al-Hadid (57): 22-23]

Jadi di samping untuk menghukum manusia-manusia yang engkar, bencana atau musibah juga dapat melatih manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang sadar. Sehingga ini dapat meningkatkan derajat mereka.
Selain itu dengan adanya bencana juga akan dapat menampakkan mana yang betul-betul hamba Allah yang beriman, dan mana mereka yang munafik.

C. Penutup
  1. Kesimpulan
Dari pembahasan singkat terhadap ayat-ayat al-Qur’an mengenai bencana dapat disimpulkan bahwa bencana yang terjadi di muka bumi ini, baik bencana alam maupun nonalam, merupakan fitnah yang diturunkan atas izin Allah. Di mana bencana tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang berdosa saja melainkan juga mereka yang tidak berdosa (berbuat salah). Ketika yang ditimpa itu adalah orang yang engkar, itu merupakan ‘iqab dari dosa yang ia lakukan,  sedangkan bagi yang beriman itu dapat dijadikan ujian yang akan meningkatkan derajatnya di sisi Allah. Selain itu dengan adanya bencana juga akan tampak mana yang betul-betul orang yang memihak kepada Agama Allah dan mana yang munafik.

  1. Saran
Berhubung penulis tidak sempat menelusuri seluruh ayat (beserta penafsirannya) yang di sana terdapat kata-kata yang berhubungan dengan bencana ini, maka demi keutuhan pembahasan, penulis mengharapkan juga ada  peneliti lain yang mau membahas tema ini












DAFTAR KEPUTAKAAN
Al-Ashfahâniy, Abiy al-Qâsim Al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’ruf bi al-Rhâghib, Mufradât Alfâz al-Qur’ân, Damaskus: Dar al-Qalam, 2002

Al-Biqa’iy, Burhan al-Dîn abiy al-Hasan Ibrahim ibn ‘Umar,  Nazm al-Durar fi Tanâsub al-Ayat  wa al-Suwar, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H

Al-Hâim, Syihab al-Dîn Ahmad ibn Muhammad al-Mishriy, Al-Tibyân fi Tafsîr Gharîb al-Qur’an, Al-Qahirah: Dar al-Shahabah al-Turats bi Thantha, 1992

Jalal al-Dîn Ahmad ibn Muhammad al-Mahalliy dan Jalal al-Dîn ‘abd  al-Rahmân ibn Abiy Bakr  al-Suyûthiy, Tafsîr Jalaian, Qahirah: Dar al-Hadîts, [t.th]

Ibn Katsîr, Abu al-Fidâ’ Ismâ’îl ibn ‘Umar al-Qursyiy al-Dimasyqiy, Tafsîr al-Qur’an al-Azhîm, Tahqiq Sami Muhammad Salamah, Majma’ al-Mulk Fahd: Dar al-Thayyibah, 1999

Al-Khalwatiy, Isma’il Haqqiy ibn Mushthafa all-Istanbûliy al-Hanafiy, Tafsîr  Ruh al-Bayân, Al-Qahirah: Dar al-Ihyya’ al-Turats, [t.th]

Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah,  al-Mu’jam al-Washith, Kairo: Maktabah al-Syuruq, 2004

Ibn Manzur, Al-Imam al-‘Alamah, Lisân al-Arab, Beirut: Dar al-Shadir, [t.th]

Al-Maraghiy, Ahmad Mushtafa, Tafsîr al-Maraghiy, Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Bâbiy al-Halabiy wa Auladuhu, 1946

Al-Qurthûbiy, abiy ‘abd Allah Muhammad ibn Ahmad Ahmad abiy Bakr ibn Farah al-Anshariy al-Khazrajiy Syams al-Dîn, al-Jâmi’ li Ahkam al-Qur’an, Riyad: Dar al-Kutub, 2003

Al-Rhaziy, Muhammad ibn abi Bakr ibn ‘abd al-Qâdir, Mukhtar al-Shihah, Beirut: Maktabah Libnan  al-Nasyirun, 1995

Shihab, M. Quraish, Menabur pesan ilahi, al-Qur’an dan dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera hati, 2006

__________, Tafsir al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2008

Al-Suyuthi, ‘Abd al-Rahman ibn Kamal Jalaluddin, Al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Beirut: Dar al-Fikr, 1993
Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990

‘Umar, Ahmad Mukhtar, al-Mu’jam al-Maushû’iy li Alfâdz al-Qur’ân al-Karîm wa Qirâ’âtuhu, Qism al-Alfadz Riyadh: Muassasah Sutur al-Ma’rifah, 1423

Undang-undang Nomor. 24  tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Bab I, Pasal. 1

http:// wikipedia.org/wiki/Bencana_alam


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), Cet. III, Jilid. I,  h. 100
[2]  http://en.wikipedia.org/wiki/Disaster
[3]  Undang-undang Nomor. 24  tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Bab I, Pasal. 1
[4] Ini sebetulnya sesuai dengan yang ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu “bencana atau kecelakaan yang diakibatkan oleh alam”., Tim Penyusun Kamus, loc.cit.   
[5] http:// wikipedia.org/wiki/Bencana_alam, yang dikutip dari G. Bankoff, G. Frerks, D. Hilhorst (eds.) (1 November 2010). Mapping Vulnerability: Disasters, Development and People.
[6] Undang-undang Nomor. 24  tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Bab I, Pasal. 1  
[7]  Abiy al-Qâsim al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’rûf bi al-Rhâghib al-Ashfahâniy, Mufradât Alfâz al-Qur’ân, (Damaskus: Dar al-Qalam, 2002), h. 495,
[8] Ibid.
[9] Al-Imam al-‘Alamah Ibn Manzur, Lisân al-Arab, (Beirut: Dar al-Shadir, [t.th]), Jilid. I, h. 534 
[10] Ismâ’îl Haqqiy ibn Mushthafa all-Istanbûliy al-Hanafiy al-Khalwatiy, Tafsîr  Ruh al-Bayân, (Al-Qahirah: Dar al-Ihyya’ al-Turats, [t.th]), Juz. I, h. 209
[11] Ibid, atau  ‘abd al-Rahmân ibn Kamal Jalâl al-Din al-Suyûthi, Al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), Juz. I, h. 380 di dalam kitab al-Dûr al-Mantsûr ini  terdapat sedikit perbedaan matan, namun dengan makna yang sama, seperti berikut ini:
" طفىء سراج النبي صلى الله عليه و سلم فقال : إنا لله وإنا إليه راجعون  فقيل : يا رسول الله أ مصيبة هي ؟ قال : نعم وكل ما يؤذي المؤمن فهو مصيبة له وأجر "   
[12] M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Lentera hati, 2006), h. 397
[13] Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah,  al-Mu’jam al-Washîth, (Kairo: Maktabah al-Syuruq, 2004), h. 71, atau Syihâb al-Dîn Ahmad ibn Muhammad al-Hâim al-Mishriy (selanjutnya  ditulis dengan Muhammad al-Hâim), Al-Tibyân fi Tafsîr Gharîb al-Qur’an, (Al-Qahirah: Dar al-Shahabah al-Turats bi Thantha, 1992), Juz. I, h. 85
[14] Rincian ini dapat dilihat pada Ahmad Mukhtar ‘Umar, al-Mu’jam al-Maushû’iy li Alfâdz al-Qur’ân al-Karîm wa Qirâ’âtuhu, Qism al-Alfadz (Riyadh: Muassasah Sutur al-Ma’rifah, 1423), h. 345-346
[15] Baca juga QS. at-Taghabun (64): 15.
[16]  M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, op.cit., h. 402-403
[17] Al-Ashfahâniy, op.cit., h.  437
[18] Muhammad ibn abi Bakr ibn ‘abd al-Qâdir al-Rhaziy, Mukhtâr al-Shihah, (Beirut: Maktabah Libnan  al-Nasyirûn, 1995), h.. 326
[19]  Al-Ashfahâniy, op.cit., h.  532
[20]  Ibid, h. 520
[21] Redaksi ayat tersebut adalah:
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (QS. Hud: 42)
[22] Ini sesuai dengan terjemahan yang dilakukan oleh Quraish Shihab, lihat M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, op.cit., h. 403
[23] Ibid
[24] Ahmad Mushtafa al-Maraghiy, Tafsîr al-Maraghiy, (Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Bâbiy al-Halabiy wa Auladuhu, 1946), Cet. I, Juz. IX, h. 43
[25] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), Vol. 11, h. 362  
[26] Quraish Shihab, al-Mishbah, op.cit., Vol. 11, h. 364
[27] Al-Ashfahaniy, op.cit.,  h. 344
[28] Kaum Tsamud merupakan salah satu bangsa Arab terbesar yang telah punah. Mereka adalah keturunan Tsmaud ibn Jatsar ibn Iram ibn Sâm ibn Nuh. Dengan demikian silsilah keturunan mereka bertemu dengan ‘Ad pada kakek yang sama yaitu Iram. Mereka bermukim di satu wilayah bernama al-Hijr yaitu suatu daerah di Hijaz (Saudi Arabia sekarang). Bangsa Tsamud juga dikenal dengan istilah bangsa Madâin Shalâlih, karena nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Shâlih. Quraish Shihab, al-Mishbah, op.cit., Vol. 14, h. 411-412
[29] Sesuai dengan QS. Al-Qamar: 23-26
[30]  Sesuai dengan QS. Al-Qamar: 27-29
[31] Quraish Shihab, Al-Mishbah, op.cit., Volume. 5, h. 157, Sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya tentang petir.
[32] Quraish Shihab, al-Mishbah, op.cit., Vol. 5, h. 157
[33] Burhan al-Dîn abiy al-Hasan Ibrahim ibn ‘Umar al-Biqa’iy,  Nazm al-Durar fi Tanâsub al-Ayat  wa al-Suwar, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H), Juz. III, h. 60
[34]  Jalâl al-Dîn Ahmad ibn Muhammad al-Mahalliy dan Jalâl al-Dîn ‘abd  al-Rahmân ibn Abiy Bakr  al-Suyûthiy, Tafsîr Jalaian, (Qahirah: Dar al-Hadits, [t.th]), cet. I, h. 216
[35] ‘Al-Suyûthiy, al-Dur al-Mantsûr, op.cit.,  Juz. III, h. 567
[36] Al-Ashfahâniy, op.cit., h. 370 
[37] Ibid., h. 568  
[38] Ibid. h. 673
[39] Al-Raziy, op.cit.,  h. 467 
[40] ‘Âd adalah sekelompok masyarakat Arab yang terdiri sekitar 10-13 suku, yang kesemuanya telah punah. Moyang mereka yang bernama ‘Ad merupakan generasi kedua dari putra Nabi Nuh. Yang bernama Sam. Menurut ahli sejarah bahwa ‘Ad adalah putra Iram, putra Sam, putra Nuh as. Suku ‘Ad ini bermukim di satu daerah yang bernama al-Syihr, tepatnya di Hadramaut, Yaman. Quraish Shihab, al-Mishbah, op.cit., Vol. 14, h. 412    
[41] Quraish Shihab, Al-Mishbah, op.cit., Vol. 12, h. 394
[42] Adapun redaksi ayat tersebut adalah:
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضاً مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
[43] Abiy al-Qâsim Muhammad ibn ‘Umar al-Zamakhasyariy al-Khawarizmiy, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwil fi Wujûh al-Ta’wîl, (Beirut: dar al-Ihyâ’ al-Turâts, [t.th]), Juz. III, h. 534
[44] Al-Ashfahaniy, op.cit.,  h. 485
[45] Quraish Shihab, Al-Mishbah, op.cit., Volume. 5, h. 157
[46] Ini sebagaimana pada ayat berikut:
يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِفَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَنْ ذَلِكَ وَءَاتَيْنَا مُوسَى سُلْطَانًا مُبِينًا
Artinya:
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka Sesungguhnya mereka Telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir Karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu kami ma'afkan (mereka) dari yang demikian. dan Telah kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. (QS.  Al-Nisa’: 153)
[47] Abu al-Fidâ’ Ismâ’îl ibn ‘Umar ibn Katsîr al-Qursyiy al-Dimasyqiy (selanjutnya ditulis dengan ibn Katsîr), Tafsîr al-Qur’an al-Azhîm, Tahqiq Sami Muhammad Salamah, (Majma’ al-Mulk Fahd: Dar al-Thayyibah, 1999), Juz. VII, h. 422, dan abiy ‘abd Allah Muhammad ibn Ahmad Ahmad abiy Bakr ibn Farah al-Anshariy al-Khazrajiy Syams al-Dîn al-Qurthûbiy, al-Jâmi’ li Ahkam al-Qur’an, (Riyad: Dar al-Kutub, 2003), Juz.. XVII, h. 48
[48] Ini sesuai dengan penafsiran Quraish Shihab terhadap QS. Al-A’raf: 133
[49]  Ini berkaitan dengan Qs. Yusuf: 47-49
[50] Quraish Shihab, Al-Mishbah, op.cit., Volume. 12, h. 503

1 komentar: