AL-JÂMI’ AL-SHAHÎH
AL-MUSNAD AL-MUKHTASHAR
MIN HADÎTS RASÛL ALLÂH
SHALA ALLÂH ‘ALAIHI WA SALLAM
WA SUNANIHI WA
AYYÂMIHI[1]
A.
Pendahuluan
Kitab al-Jâmi’ al-Shahîh atau Shahîh
al-Bukhâriy adalah kitab hadîts yang posisinya diletakkan
pada posisi kedua setelah al-Qur’ân[2] oleh
banyak kalangan terutama di lingkungan sunniy. Kenapa kitab ini bisa
muncul dan bisa menempati posisi yang demikian tinggi di hati umat Islam? Untuk
menjawab pertanyaan seperti ini penulis akan mencoba membahasnya secara singkat
lewat makalah yang berjudul “AL-JÂMI’ AL-SHAHÎH AL-MUSNAD
AL-MUKHTASHAR MIN HADÎTS RASÛL ALLÂH SHALA ALLÂH ‘ALAIHI WA SALLAM WA SUNANIHI
WA AYYÂMIHI ”
Pembahasan makalah ini meliputi: Biografi Imam al-Bukhâriy,
yang terdiri dari nama dan nasab Sang Imam, integritas keilmuan dan
kepribadiannya serta bagai mana wafatnya beliau, kemudian pembahasan global
mengenai Kitab Shahîh al-Bukhâriy, yang terdiri dari latar
belakang penulisan, metode dan sistematika penulisan kitab, serta isi
kandungannya.
B.
Biografi Imam Al-Bukhâriy
- Nama dan Nasabnya
Beliau dikenal dengan Amir al-Mukminin fi al-Hadîts.[3]
Namanya adalah Muhammad ibn Ismâ’îl
bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin Bardizbah Al-Ju’fiy, biasa dipanggil dengan
sebutan Abu ‘Abd Allâh al-Bukhâriy, sehingga terkadang nama lengkapnya dikenal
dengan Abu ‘abd Allâh Muhammad ibn Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin
Bardizbah Al-Ju’fiy al-Bukhâriy.
Terkait dengan nama kakek beliau paling atas
–Bardizbah- terdapat beberapa perbedaan, di antaranya:
a.
Menurut Hâfizh al-Amir Habbah Allâh
Abu Nashr al-Makwalan nama kakeknya tersebut memang Bardizbah.[4]
b.
Menurut Ibn Khalkan nama kakeknya adalah
Yazzibah[5]
c.
Al-Zahabiy mengatakan : “Muhammad ibn Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin
Bardizbah, dan disebut juga Bazduzbah”.[6] Demikian
juga halnya dengan Al-Mizzîy, Beliau menyebutnya dengan Bardizbah,[7] yang
berarti “al-zurrâ’”[8].
Sebagaimana yang ditulis Oleh Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, bahwa al-Bardizbah adalah seorang
yang beragama Majusi, sedangkan al-Mughîrah memeluk Islam atas bimbingan Yaman
al-Ju’fiy –Gubernur Bukhâra- sehingga beliau dipanggil dengan Mughîrah
al-Ju’fiy. Adapun mengenai Kakek Imam al-Bukhâriy, Ibrâhîm, tidak ada
keterangan yang menjelaskan, sedangkan ayahnya yang bernama Ismâ’îl adalah
ulama besar di bidang hadîts, yang belajar kepada Hammâd
ibn Zayd dan Imam Mâlik. Ayah Imam al-Bukhâriy adalah seorang yang wara’
dan taqwa.[9]
Sehingga tampak nyata jika sosok Imam al-Bukhâriy yang cemerlang berasal dari
latar belakang keluarga intelektual tinggi dan beragama yang baik.
Imam al-Bukhâriy dilahirkan
pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhâra (Bukarest). Ketika
masih kecil, ayahnya -yaitu Ismâ’îl- sudah meninggal, sehingga dia pun diasuh
oleh sang ibu. Menurut riwayat, ketika kecil kedua mata al-Bukhâriy buta, suatu
ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrâhîm yang berkata kepadanya, “ يا
هذه قد رد الله على ولدك بصره بدعا ئك ”. Pagi
harinya dia dapati penglihatan anaknya –Imam al-Bukhâriy- telah sembuh.[10]
Semasa hidupnya Imam al-Bukhâriy
telah melakukan perjalanan ke berbagai daerah, dan hampir seluruh negeri Islam
masa itu telah beliau singgahi. Ini
dapat dipahami dari ungkapan beliau: “دخلت الى الشام, و
مصر,و الجزيرة مرتين, و الى البصرة اربع مرات, واقمت بالحجازستة اعوام, ولا احصى
كم دخلت الى الكوفة, و بغداد مع المحدثين”[11]
- Integritas keilmuan dan kepribadian Imam Al-Bukhâriy
Imam al-Bukhâriy
adalah sosok yang komplek, baik kepribadian maupun intelektual, sehingga beliau
sangat pantas –bahkan harus- disebut sebagai imam Hadîts.[12] Di antara data yang menunjukkan bahwa beliau
semestinya disebut dengan imam hadîts adalah:
a. Beliau adalah ulama yang
cerdas dan memiliki hafalan yang kuat
Bukti dari
kecerdasannya, beliau telah hafal al-Qur’ân dan banyak hadîts semenjak
usia sepuluh tahun, bahkan sebelum berusia 16 tahun ia telah hafal kitab Ibn
Mubarak dan Waki’ ibn Jarah.[13] Bahkan berkat lawatannya ke berbagai negeri, ia
telah mampu menghafal ribuan hadîts, sebagaimana perkataannya:
Artinya:
Saya hafal hadîts di luar kepala sebanyak 100.000 hadîts shahih,
dan 200.000 hadîts yang tidak shahih.
Kekuatan
hafalan Imam al-Bukhâriy sudah amat terkenal di dalam sejarah, terutama
mengenai bagaimana ujian yang diberikan oleh ulama Baghdad kepada beliau yang
banyak dibahas di dalam kitab-kitab ulum al-hadîts,
terkait pembahasan hadîts Maqlûb.[15]
Dan di antara
riwayat-riwayat yang menunjukkan kecerdasan beliau adalah sebagai berikut:
1)
Hasyîd bin Ismâ’îl menceritakan: Dahulu al-Bukhâriy
biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masâyikh
(para ulama) di Bashrah, pada saat itu dia masih kecil. Dia tidak pernah
mencatat, sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah 6 hari berlalu
kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia mengatakan, “Kalian merasa
memiliki lebih banyak hadîts daripada aku. Cobalah kalian
tunjukkan kepadaku hadîts-hadîts yang telah kalian
tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadîts tersebut.
Lalu ternyata dia menambahkan hadîts yang lain lagi sebanyak lima
belas ribu hadîts. Dia membacakan hadîts-hadîts
itu semua dengan ingatan (di luar kepala), sampai-sampai kami pun akhirnya
harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman kepada
hafalannya[16]
2)
Muhammad bin Al Azhâr As Sijistâniy menceritakan:
Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan al-Bukhâriy
juga ikut bersama kami. Dia hanya mendengarkan dan tidak mencatat. Ada orang
yang bertanya kepada sebagian orang yang hadir ketika itu, “Mengapa dia tidak
mencatat?” Maka orang itu pun menjawab, “Dia akan kembali ke al-Jâmi’ al-Shahîh
dan menulisnya berdasarkan hafalannya.”[17]
3)
Imam al-Bukhâriy mengatakan, “Aku
menyusun kitab Al-Jâmi’ (Shahih al-Bukhâriy)
ini dari enam ratus ribu hadîts yang telah aku dapatkan dalam
waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku
dengan Allâh.”[18]
4)
Al-Hâfizh Ibnu Hajar
menuturkan bahwa apabila Bukhâriy membaca Al-Qur’ân maka hati, pandangan, dan
pendengarannya sibuk menikmati bacaannya, dia memikirkan
perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalamnya, dan mengetahui hukum halal
dan haramnya.[19]
Di antara guru-guru beliau
dalam memperoleh hadîts dan ilmu hadîts antara lain
Ali ibn Al Madini, Ahmad bin Hanbal,
Yahya bin Ma'in,
Muhammad ibn
Yusuf Al Faryabi, Maki ibn Ibrâhîm
Al Bakhi, Muhammad ibn
Yusuf al Baykandi dan ibn Rahawahih. Selain itu
ada 289 ahli hadîts yang hadits-nya dikutip dalam
kitab Shahîh-nya. Selain itu Banyak para ahli hadîts yang berguru
kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hâtim
Tirmîdziy, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.
b. Beliau memahami hadîts nabi baik dirayah maupun riwayah.
c. Beliau mampu membedakan mana
riwayat yang shahîh dan yang tidak serta perawi
yang ‘adil dan yang majrûh, sebagaimana yang tergambar
dari perkataannya berikut ini:
Artinya:
Saya tidak meriwayatkan hadîts dari sahabat dan tabi’in, kecuali saya
mengetahui kelahiran dan wafatnya, serta siapa gelarnya…
d. Beliau adalah sosok yang cermat
dan teliti, di mana ia tidak mau meriwayatkan hadîts kecuali
langsung berkenalan dengan orangnya, sebagaimana beliau pernah berkata:
لم
تكن كتابتى للحديث كما كتب هولاء , كنت اذا كتبت عن رجل سألته عن اثمه و كنيته,
ونسبته, وحمل الحديث ان كان فهما, فان لم يكن سألته ان يخرج الي اصله...[21]
Artinya: Tulisan
saya mengenai hadîts, tidak sama dengan tulisan mereka (ahli hadîts
yang lain), Adapun saya, jika menulis hadîts dari seseorang, maka saya
akan menanyakan, siapa namanya, siapa kunyahnya, nasabnya, dan maksud hadîts
jika ia mengerti, tetapi jika dia tidak mengerti saya akan memintanya untuk
menunjukkan asal hadîts tersebut…
Perhatian
yang sungguh dari Imam al-Bukhâriy untuk mengetahui dan bertemu dengan para
perawi dikuatkan oleh
Hafidz ibn Hajar, terkait dengan pembelaan beliau terhadap al-Bukhâriy. Beliau menjelaskan bahwa di
dalam Shahih al-Bukhâriy memang terdapat 80 perawi yang dianggapnya Dha’if, tetapi rata-rata di antara perawi tersebut adalah perawi yang telah dijumpai Imam al-Bukhâriy, yang telah duduk di majlisnya dan
mengenal keadaannya, sehingga beliau mampu membedakan mana hadits yang shahih
dan yang tidak.[22]
e. Melahirkan karya tulis yang
bernilai tinggi lagi berfariasi
Sebagai intelektual yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhâriy
dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya
dalam disiplin ilmu Hadîts, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti Tafsir, Fikih,
dan Târikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki
derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen),
tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam
berpendapat dalam hal hukum.
Di antara karya beliau tersebut –selain kitab Al-Jâmi’
al-Shahîh adalah: Al-Adab al-Mufrad, Al-Dhu'afâ’ al-Shaghîr,
Al-Tarikh al-Shaghîr, Al-Tarikh al-Ausath, Al-Tarikh al-Kabîr , Al-Musnad
al-Kabir, Kitab al-Ilal, Raf'u al-Yadain fi al-Shalah, Birr al-Wâlidain,
Kitab ad-Du'afâ’, Asam al-Shahâbah, Al-Hibah, Khalq Af'al al-‘Ibâd, Al-Kuna, Al-Qira'ah
Khalf al-Imam[23].
f. Beliau mendapat pangakuan dan
pujian dari Imam-Imam hadîts
Imam Al-Bukhâriy
sangat banyak menuai
pujian, di antara pujian ulama
terhadap kredibilitas imam Al-Bukhâriy tersebut adalah:
1)
Abu Mush’ab Ahmad bin Abi Bakr al-Zuhri
mengatakan, “Muhammad bin Ismâ’îl
(al-Bukhâriy) lebih fakih dan lebih mengerti hadîts dalam pandangan kami
dari pada Imam Ahmad bin Hanbal.” Salah seorang teman duduknya
berkata kepadanya, “Kamu terlalu berlebihan.” Kemudian Abu Mush’ab justru
mengatakan, “Seandainya aku bertemu dengan Malik dan aku pandang wajahnya
dengan wajah Muhammad bin Ismâ’îl
niscaya aku akan mengatakan: Kedua orang ini sama dalam hal hadîts
dan fiqih.”[24]
2)
Qutaibah ibn Sa’id mengatakan, “Aku telah
duduk bersama para ahli fikh, ahli zuhud, dan ahli ‘ibâdah. Aku
belum pernah melihat semenjak aku bisa berpikir ada seorang manusia yang
seperti Muhammad bin Ismâ’îl. Dia
di masanya seperti halnya Umar di kalangan para sahabat.”[25]
3)
Muhammad bin Yûsuf Al Hamdani menceritakan: Suatu saat
Qutaibah ditanya tentang kasus “perceraian dalam keadaan mabuk”, lalu masuklah Muhammad
bin Ismâ’îl ke ruangan tersebut.
Seketika itu pula Qutaibah mengatakan kepada si penanya, “Inilah Ahmad
bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan Ali ibn Madiniy yang telah
dihadirkan oleh Allâh untuk menjawab pertanyaanmu.” Seraya mengisyaratkan
kepada al-Bukhâriy[26]
4)
Ahmad bin Hambal mengatakan,
“Negeri Khurasan belum pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Ismâ’îl.”[27]
5)
Muhammad bin Basyar mengatakan tentang Imam al-Bukhâriy,
“Dia adalah hamba Allâh yang paling fakîh di zaman kami.” [28]
6)
Hasyid bin Ismâ’îl menceritakan: Ketika
aku berada di Bashrah aku mendengar kedatangan Muhammad bin Ismâ’îl. Ketika dia datang, Muhammad
bin Basyar pun mengatakan, “Hari ini
telah datang seorang pemimpin para fuqahâ’.”[29]
7) Muslim bin Hajjaj -penulis Shahîh Muslim,
murid Imam al-Bukhâriy- mengatakan, “Aku bersaksi
bahwa di dunia ini tidak ada orang yang seperti dirimu (yaitu seperti al-Bukhâriy).”
[30]
g. Kelebihan intelektualitas
beliau disempurnakan dengan ketaqwaan dan kemuliaan akhlaknya.[31]
- Wafatnya Imam al-Bukhâriy
Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi
sampai ke seantero dunia Islam. Di Naisabur, tempat asal imam
Muslim seorang ahli hadîts yang juga murid Imam al-Bukhâriy dan yang
menerbitkan kitab Shahîh
Muslim, kedatangan beliau pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru
Imam Bukhâriy Sendiri Muhammad bin
Yahya Az-Zihli. Dalam kitab Shahîh Muslim, Imam Muslim
menulis. "Ketika Imam Bukhâriy datang ke Naisabur, saya tidak melihat
kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti
yang mereka berikan kepada Imam al-Bukhâriy". Namun kemudian terjadi
fitnah yang menyebabkan Imam al-Bukhâriy meninggalkan kota itu dan pergi ke
kampung halamannya di Al-Jâmi’ al-Shahîh. Tetapi seperti halnya di Naisabur, di Al-Jâmi’
al-Shahîh beliau disambut secara meriah. Namun ternyata fitnah
kembali melanda, kali ini datang dari Gubernur Al-Jâmi’ al-Shahîh
sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli yang akhirnya Gubernur ini
menerima hukuman dari Sultan Uzbekistan Ibn Thahir.[32]
Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand
sebuah negeri tetangga Uzbekistan, Imam Bukhâriy akhirnya menetap di
Samarkand,. Tiba di Khartand, sebuah desa
kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun
di sana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada
tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun
kurang 13 hari. Ia dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.[33]
C.
Kitab Al-Jâmi’ Al-Shahih Al-Musnad
Al-Mukhtashar min Hadîts Rasul Allâh Shala Allâh ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanihi
wa Ayyâmihi
- Latar Belakang Penulisan Kitab Shahîh al-Bukhâriy
Adapun mengenai latar belakang kenapa imam Imam Al-Bukhâriy
ingin menyusun kitab Shahîh al-Bukhâriy, terdapat dua buah
riwayat yang berkaitan dengan hal ini, yaitu:
a.
Riwayat
Ibrâhîm ibn Ma’qal al-Nasafiy yang menjelaskan bahwa Imam al-Bukhâriy
menulis Hadîts atas anjuran gurunya, Ishâq Ibn Rahawaih.[34]
روي عن البخارى انه قال:
كنت عند اسحاق ابن راهويه فقال: لو جمعتم كتابا مختصرالصحيح سنة رسول الله صلى
الله عليه وسلم, قال: فوقع فى قلبى فأخذت فى جمع الجامع الصحيح[35]
Artinya: Diriwayatkan dari imam al-Bukhâriy,
bahwa ia berkata: Saya pernah bersama Ishaq Ibn rahawaih, maka ia berkata: Hendaklah
kamu menyusun kitab yang khusus berisi sunnah atau hadîts Rasul Allâh
yang shahîh
saja, maka ia berkata: ucapan itu merasuk dan membekas di dalam hatiku, lalu
aku menyusun al-Jâmi’ al-Shahîh.
b.
Riwayat Muhammad ibn Sulaiman Ibn Fâris, bahwa Imam al-Bukhâriy
pernah berkata:
سمعت البخاري سقول: رايت
النبى صلى الله عليه وسلم وكأنى واقف بين يديه وبيدي مروحة أذب بها عنه, فسألت بعض
المعبرين, فقال لي: تذب عنه الكذب فهو الذى حملني على اخرج الجامع الصحيح[36]
Artinya: Saya mendengar Imam
al-Bukhâriy berkata: Aku bermimpi berjumpa Nabi Muhammad SAW, seolah-olah aku berada di depannya sambil
membawa maruhah untuk menjaga beliau dari gangguan, lalu aku bertanya kepada
ahli ta’bir mimpi, dia menjelaskan kepadaku :engkau akan mencegah pemalsuan hadîts
Rasul Allâh, Mimpi inilah yang mendorongku untuk menyusun kitab al-Jâmi’ al-shahîh.
Kedua riwayat di atas, terutama riwayat yang pertama
sangat dipengaruhi kondisi historis penulisan hadîts pada akhir
abad kedua Hijrah atau penulisan hadîts sebelum penulisan Shahîh
al-Bukhâriy. Di mana para penulis kitab merangkum di dalam kitabnya
berbagai hadîts dengan bermacam-macam kwalitas. Di sana terdapat hadîts
shahîh, hadîts hasan, hadîts
dha’îf, bahkan perkataan para sahabat. Penulisan seperti ini pada
awalnya tidak membawa masalah, karena jumlah periwayatan hadîts
waktu itu masih dalam jumlah yang terbatas, serta para ulama melengkapi itu
semua dengan penyusunan kitab ‘ilâl dan kitab rijal al-hadîts.
Namun setelah itu –terutama pertengahan abad ke-3
Hijriah-, seiring dengan meluasnya periwayatan dan semakin panjangnya jalur sanad
maka banyak dari umat Islam yang susah membedakan mana hadîts
yang shahîh dan yang tidak. Hal ini mengundang perhatian
besar ulama waktu itu, seperti Ishâq ibn Rahawaih.[37]
Sehingga ia mengusulkan kepada murid-muridnya untuk menulis kitab hadîts
yang khusus memuat hadîts shahîh saja,
sebagaimana riwayat Ibrâhîm ibn Ma’qal al-Nasafiy di atas. Dan murid ibn
Rahawaih yang langsung menanggapi usulannya adalah Imam al-Bukhâriy.
- Metode Penulisan Kitab Shahîh al-Bukhâriy
Kitab Shahîh al-Bukhâriy adalah
kitab hadîts pertama yang hanya memuat hadîts-hadîts
yang shahîh. Imam al-Bukhâriy menghabiskan waktu selama 16 tahun
untuk menyusunnya. Beliau mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi
hadîts, mengumpulkan dan menyeleksi hadîts-nya
hingga menulisnya. Di antara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah,
Mesir,
Hijaz
(Mekkah,
Madinah),
Kufah,
Baghdad
sampai ke Asia Barat.
Di Baghdad, Imam al-Bukhâriy sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar
seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Dari sejumlah kota-kota itu, ia
bertemu dengan 1.080 perawi. Dan dari merekalah beliau mengumpulkan dan
menghafal ribuan hadîts.
Namun tidak semua hadîts yang ia hafal
kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang
sangat ketat, di antaranya apakah sanad
dari hadîts tersebut bersambung dan apakah perawi hadîts
itu terpercaya dan tsiqah.[38]
Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhâriy sangat
berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhâriy
berkata. "Saya susun kitab al-Jâmi `ash Shahîh ini di
Masjidil Haram, Mekkah dan saya
tidak mencantumkan sebuah hadîts pun kecuali sesudah shalat
istikharah dua rakaat (memohon pertolongan kepada Allâh), dan sesudah meyakini
betul bahwa hadîts itu benar-benar shahîh ".
Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara
sistematis. Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah
al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid
Nabawi di Madinah.
Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadîts dan
menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan
di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara
ilmiah sehingga hadîts-hadîts-nya dapat
dipertanggungjawabkan.[39]
Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki
kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan
ke-shahîh-an hadîts yang diriwayatkan. Ia
juga selalu membandingkan hadîts satu dengan yang lainnya,
memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahîh. Dengan
demikian, Imam al-Bukhâriy benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi
sejumlah hadîts. Bahkan beliau pernah berkata: "Saya tidak
memuat sebuah hadîts pun dalam kitab ini kecuali hadîts-hadîts
shahîh ".[40]
Di belakang hari, para ulama hadîts
menyatakan, dalam menyusun kitabnya, Imam al-Bukhâriy selalu berpegang
teguh pada tingkat ke-shahîh-an paling tinggi dan tidak
akan turun dari tingkat tersebut,
kecuali terhadap beberapa hadîts yang bukan merupakan materi
pokok dari sebuah bab.
Singkat kata, ada dua faktor penting penentu
keberhasilan imam al- Bukhâriy di dalam menyusun kitab shahîh-nya,
yaitu:
a.
Beliau menyusunnya dengan menjunjung
tinggi sikap ilmiah, terutama di dalam menetapkan standar ke-shahîh-an.[41]
b.
Beliau tidak melupakan aspek rohani,
dimana ia selalu meminta hidayah Allâh lewat shalat istikhârah di dalam
menulis kitabnya.
- Sistematika dan Isi kitab Jâmi’ Al-Shahîh
Jâmi’ Al-Shahîh atau Shahîh
al-Bukhâriy terdiri dari beberapa kitab.[42] Imam
al-
Bukhâriy memulainya dengan Kitab permulaan wahyu, yang menjadi dasar
utama bagi syariat Islam. Kemudian disusul dengan kitab Iman, Kitab Ilmu, Kitab
Thaharah, kitab Shalat, Kitab Zakat dan seterusnya. Dalam beberapa naskah
terdapat perbedaan mengenai urutan antara kitab Puasa dengan kitab Haji.
Kemudian Kitab Buyu’, Mu’malah, Murafa’at, Syahadat,
Shulh, Wasiat, Waqaf dan Jihad. Selanjutnya kitab yang tidak menyangkut Fiqih
seperti tentang penciptaan makhluk, riwayat para nabi, cerita sorga dan neraka,
manâqib Quraish, dan keutamaan sahabat.
Selanjutnya Kitab Sirah Nabawiyah dan Maghâzi, serta hadîts
yang berkaitan dengannya, Lalu kitab Tafsir, kemudian kembali lagi ke masalah
Fiqh mengenai Nikah, Talaq, dan Nafaqah. Kemudian kitab Ath’imah, Asyribah,
Kitab Thib, Kitab Adab, Kitab Birr, kitab Shillah dan Isti’zan. Kemudian Kitab
Nuzur dan Kifarat, Hudud, Ikrah, Ta’bir al-Ru’yah, kitab Fitn dan Ahkam.
Dalam kitab ini juga dimuat mengenai para penguasa dan
para hakim. Kemudian kitab I’tisham bi al-Kitab wa al-Sunnah dan yang terakhir
Kitab Tauhid, sebagai penutup kitab Shahîh-nya yang
terdiri dari 97 Kitab dan 3450 Bab. Namun perlu diketahui di dalam naskah yang
ada terdapat beberapa perbedaan yaitu ada kitab yang dianggap sebagai bab, juga
sebaliknya ada bab yang dianggap sebagai kitab. Hal ini dapat diketahui melalui
muraja’ah atau penelitian terhadap matan Shahîh
al-Bukhâriy yang telah dicetak dan
kitab syarah-nya.
Dalam Shahîh al-Bukhâriy ada
beberapa bab yang memuat banyak hadîts dan ada pula bab yang
hanya memuat satu hadîts, dan ada yang berisi ayat-ayat al-Qur’ân
tanpa adanya hadîts, bahkan ada pula yang kosong tanpa isi.
Tampaknya mengenai hal yang terakhir ini imam al-Bukhâriy belum mendapatkan hadîts
untuk mengisi bab itu sesuai kriterianya. Oleh karena itu bab tersebut
dibiarkan kosong, dengan harapan suatu saat dapat menemukan hadîts-hadîts
yang memenuhi syarat-syarat ke-shahîh-annya.
Dan Shahîh al-Bukhâriy ini
dicetak oleh beberapa penerbit dengan jumlah jilid yang tidak sama. Dan di
dalam terbitan Dar al-Taqwa, Shahîh al-Bukhâriy terdiri
dari 4 jilid.
Menurut ‘Allâmah Ibn Shalah, dalam kitab
Muqaddimah, kitab Shahîh al-Bukhâriy itu memuat 7275 hadîts
termasuk di sana hadîts yang berulang, dan di antaranya ada 4000 hadîts
yang dimuat utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh
Muhyiddin al-Nawawi dalam kitab Al-Taqrib.[43]
Dalam pada itu Ibnu Hajar
Al-Atsqalâni dalam kata pendahuluan untuk kitab Fathul Bâriy,
yakni syarah atau penjelasan kitab Shahîh al-Bukhâriy
menulis, semua hadîts shahîh yang maushul
di dalam Shahîh al-Bukhâriy (yang dimuat dengan tidak ada pengulangan)
sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadîts yang mu'allaq namun marfu , dan tidak diulas pada tempat lain ada
sebanyak 159 buah, Adapun jumlah hadîts shahîh
yang berulang sebanyak 7397 buah, hadîts mu’alaq sebanyak
1341 dan hadîts muttabi’ sebanyak 244 buah. Total hadîts
di dalam Shahîh al-Bukhâriy -termasuk yang terjadi
pengulangan- sebanyak 9.082 hadîts.[44]
- Standar hadîts yang diterima oleh al-Bukhâriy untuk ditulis di dalam kitab Shahîh al-Bukhâriy
Mengenai syarat hadîts yang diterima
al-Bukhâriy untuk ditulisnya di dalam kitab Shahîh-nya,
memang beliau tidak ada mengungkapkan. Namun kriteria tersebut dapat dipahami
dari penelitian yang dilakukan terhadap kitabnya tersebut. Meskipun dimaklumi
jika hasil penelitian tersebut tidak bermuara kepada sebuah kesimpulan yang sama.
Di antara ulama yang mencurahkan perhatiannya terhadap hal ini adalah sebagai
berikut:
a.
Abu ‘abd Allâh al-Hâkim al-Naisabûriy.
Penelitian terhadap standar ke-shahîh-an
hadîts yang dipakai al-Bukhâriy, beliau kemukakan ketika membahas
hadîts shahîh di dalam kitab al-Madkhal
fi ushl al-hadîts. Di dalam kitab tersebut secara umum Imam al-Hâkim
membagi hadîts shahîh kepada sepuluh
tingkatan. Lima tingkatan pertama disepakati ke-shahîh-annya
oleh mayoritas ulama dan lima berikut mereka pertikaikan. Ringkasnya di dalam pengelompokan
tersebut beliau menyimpulkan jika Imam al-Bukhâriy hanya menerima hadîts
yang diriwayatkan oleh sahabat yang masyhûr (maksudnya sahabat yang
meriwayatkan hadîts kepada dua orang tabi’in atau lebih),
kepada para tabi’in yang tsiqah, lalu kepada tabi’ tabi’in
yang masyhûr akan ke-‘adalah-an dan kekuatan hafalan serta
ketelitiannya. Sedangkan jika diriwayatkan oleh sahabat yang tidak masyhûr
–maksudnya tidak ada tabi’in yang meriwayatkan darinya kecuali 1 orang-
maka itu tidaklah ditulis oleh al-Bukhâriy.[45]
Namun pendapat al-Hâkim di atas dibantah oleh
Abu al-Fadhl Muhammad ibn Thahir al-Muqaddasiy dan Muhammad ibn
Musa al-Hazimiy. Menurut al-Muqaddasiy, al-Hâkim salah di dalam
mengambil kesimpulan, karena pada kenyataannya di dalam Shahîh
al-Bukhâriy ada terdapat hadîts yang diriwayatkan dari
sahabat yang tidak masyhûr, seperti riwayat Mirdas al-Aslamiy, di mana
tidak ada seorang perawi-pun yang meriwayatkan hadîts
darinya selain Qais ibn abi Hâzim.[46]
b.
Al-Muqaddasiy dan al-Hazimiy
Keduanya –sebagaimana dijelaskan sebelumnya- tidak
sependapat dengan al-Hakim. Menurut Al-Muqaddasiy, syarat yang ditetapkan Imam
al-Bukhâriy adalah bahwa ia hanya meriwayatkan hadîts yang
berasal dari perawi yang tidak dipertikaikan ke-tsiqah-an dan ke-tsabat-annya
serta memiliki sanad yang bersambung (tidak terputus)[47]
Lebih lanjut al-Hazimiy menjelaskan syarat hadîts
shahîh –yang pasti diperpegangi ulama sekelas al-Bukhâriy-
yaitu, riwayat tersebut mestilah diriwayatkan oleh perawi yang memiliki
kriteria sebagai berikut: Islam, berakal, ‘âdil dan dhâbit. [48]
Selain dari syarat di atas, Imam al-Bukhâriy
menambahkan syarat lain yaitu:
1)
Hendaklah perawi tersebut lama
bergaul dengan gurunya, karena ini akan menjadi faktor penting akan hafalan dan
ke-dhabit-annya.
2)
Secara historis dapat dipastikan jika
antara perawi dan gurunya mereka saling bertemu, dan mendengar hadîts
yang diriwayatkannya.[49]
Satu hal yang
mesti digarisbawahi bahwa tidak seluruh hadîts shahîh
terdapat di dalam kitab Shahîh al-Bukhâriy ini. Dan
beliaupun mengakui
hal ini melalui perkataannya:
لم اخرج فى هذا الكتاب الا صحيحا, وما تركت من
الصحيح أكثر[50]
Artinya: saya tidak menulis hadîts
di dalam kitab ini kecuali yang shahîh saja, dan hadîts shahîh
yang tidak saya tulis justru sangat banyak.
- Kitab Syarah dan Mukhtashar dari Shahîh al-Bukhâriy
Sebagai bukti besarnya perhatian ulama terhadap Shahîh
al-Bukhâriy, mereka menulis banyak kitab Syarah. Menurut pengarang Kasy
al-Zunun ada sekitar 82 kitab yang merupakan kitab syarah dari Shahîh
al-Bukhâriy. Di antara kitab Syarah yang terkenal adalah:
a.
Al-Kawâkib al-Durariy fi Syarh Shahîh
al-Bukhâriy Yang ditulis oleh ‘Allâmah Syams al-Dîn Muhammad Ibn
Yûsuf ibn ‘Ali al-Kirmani
b.
Fath al-Bâriy bi Syarh Shahîh
al-Bukhâriy karya ‘Al-Hafidz abi al-Fida’ Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad
ibn Muhammad ibn Hâjar al-‘Asqalâniy
c.
Umdah al-Qâriy karya ‘Allâmah Badr
al-Din Mahmud ibn Ahmad al-‘Aini al-Hanâfiy
d.
Irsyâd al-Syâriy ila Shahîh
al-Bukhâriy Karya ‘Allâmah Sihâb al-Din Ahmad ibn Muhammad
al-Khâtib al-Misriy al-Syâfi’i
Sedangkan yang termasuk kitab mukhtashar dari
Shahîh al-Bukhâriy di antaranya adalah:
a.
Bahjah al-Nufus wa Ghâyatuha karangan abu
Muhammad ‘abd Allâh ibn Sa’ad ibn abiy Jamrah al-Andalusiy
b.
Mukhtashar Imam al-Zainuddin
karya Imam al-Zainuddin ‘abd al-‘Abbas Ahmad ibn ‘abd al-Latif al-Sarij
al-Zubaidiy.[51]
D.
Penutup
a.
Kesimpulan
Kitab al-Jâmi’ al-Shahîh atau Shahîh
al-Bukhâriy adalah kitab hadîts pertama yang khusus memuat hadîts-hadîts
shahih saja. Kitab ini memiliki kedudukan yang tinggi di banding kitab-kitab
lain. Hal ini karena berbagai alasan di antaranya adalah:
-
Ditulis oleh seorang yang cerdas lagi
memiliki integritas kepribadian yang mulia (taqwa dan wara’).
-
Ditulis dengan menggunakan metode ilmiah
serta tidak melupakan aspek Ilahiah (dengan ber-istikhârah kepada
Allâh)
b.
Saran-saran
Terakhir penulis berharap, mengingat makalah ini hanya
membahas secara global mengenai Kitab Shahîh al-Bukhâriy,
maka pembahasan ini perlu dilihat dan dibahas lebih mendalam pada diskusi
ataupun makalah berikutnya, terutama mengenai berbagai pandangan terhadap isi
kitab, seperti terkait hadîts mu’allaq dan pembahasan-pembahasan
penting lainnya.

Al-‘Asqalâniy, Ahmad
ibn ‘Ali ibn Hajar, Hady al-Syâriy Muqaddimah Fath al-Bâriy, Beirut:
Dar Kutb al-Ilmiyah, [tth]
Ibn Bahâdir, Badruddîn abiy
Abd Allâh Muhammad ibn Jamâluddîn abd Allâh, Al-Nukt ‘ala Muqaddimah
Ibn shâlah, Riyadh: Maktab Adhwa’ alSalaf, 1998
‘Al-Dzahabiy, Imam Syams
al-Din Muhammad Ibn Ahmad ibn ‘Usman, Tahzîb Sira a’lam
al-Nubala’, Beirut: Muassasah al-Risâlah, 1991
Al-Hamid, Sa’id ibn
‘Abd Allâh, Manahij al-Muhadditsîn, Riyadh: Dar Ulum al-Sunnah,
1999
Al-Haziliy, Muhammad
‘Abd al-‘Azis, Miftah al-Sunnah au Tarikh Funun al-Hadits, Beirut: Dar
al-Kutub al-‘Ilmiah, [t.th]
Al-Khatib, Muhammad
‘Ajjâj, Ushul al-Hadîts Ulûmuhu wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-Fikr,
1989
Al-Kufiy, Abu Bkr (i’dad), Minhâj
al-Imâm al-Bukhârîy fi Tashhih al-Hadîts wa ta’liliha min Khilal
al-Jami’ al-Shahîh, Beirut: Dar Ibn Hazm, 2000
Al-Mizziy, Jamal al-Dîn Abi
al-Hajjâj Yûsuf, Tahdzîb al-Kamâl fi Asmâ’ al-Rijâl, Beirut:
Mu’assasah al-Risâlah, 1985
Mulakhatir, Khalil Ibrâhîm,
Makanah al-Shahîhain, Qahirah: al-Mathba’ah al-‘Arabiyah al-Hadîtsiyah,
1402H
Al-Muthâlib, Rif’at Fauzi
Abd, Kutub al-Sunnah Dirasah Tautsiqiyah, Qahirah: Maktabah al-Khaniji,
1979
Al-Shâlih, Subh, Ulum
al-hadîts wa Mushthalahuhu, Beirut: Dar al-‘Ilm al-Malayin,
1988
Abu Syuhbah, Muhammad
Muhammad, fi Rihab al-Sunnah al-Kutb al-Sihhah
al-Sittah, [t.kt]: Silsilah al-Buhuts al-Islâmiy, 1995
![]() |
[1] Ini
adalah kitab hadîts karya Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin
Bardizbah Al-Ju’fiy al-Bukhârîy (selanjutnya disebut Imam al-Bukhârîy). Kitab
ini biasa dikenal dengan kitab Shahîh al-Bukhârîy atau
kitab Jâmi’ al-Shahîh, dan untuk berikutnya penulis
menyebutnya dengan sebutan ini.
[2]
Keterangan seperti ini pernah ditulis oleh Subh al-Shâlih, lebih lanjut
lihat Subh al-Shâlih, Ulum al-Hadîts wa Mushthalahuhu, (Beirut:
Dar al-‘Ilm al-Malayin, 1988), h. 396
[3] Amir
al-Mukminîn di sini berbeda dengan istilah amir al-mukminîn yang
dikenal di dalam sejarah khilafah Islam, seperti yang diberikan kepada para khalifah
al-Rasyidin. Adapun yang dimaksud dengan amir al-mukminîn di bidang hadîts
ini adalah: ahli hadîts yang populer di masanya, baik dari segi hafalan
maupun dirayah hadîts, sehingga ia menjadi tokoh dan imam di waktu itu.
Lebih lanjut lihat: Muhammad ‘Ajjâj al-Khatib, Ushul al-Hadîts
Ulûmuhu wa Musthalahuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 449
[4] Lihat
Abu Bkr al-Kufiy (i’dad), Minhâj al-Imâm al-Bukhârîy fi Tashhih al-Hadîts
wa ta’liliha min Khilal al-Jami’ al-Shahîh, (Beirut: Dar Ibn Hazm,
2000), h 42
[5] Ibid, h.
43
[6] Imam
Syams al-Din Muhammad Ibn Ahmad ibn ‘Usman al-Dzahabiy, Tahzîb
Sira a’lam al-Nubala’, (Beirut: Muassasah al-Risâlah, 1991), Juz. XII, h.
391
[7] Lihat
Jamal al-Dîn Abi al-Hajjâj Yûsuf Al-Mizziy, Tahdzîb al-Kamâl fi Asmâ’
al-Rijâl, (Beirut: Mu’assasah al-Risâlah, 1985), Cet. I, Juz. XXIV, h. 431
[8] Ahmad
ibn ‘Ali ibn Hajar al-‘Asqalâniy, Hady al-Syâriy Muqaddimah Fath al-Bâriy,
(Beirut: Dar Kutb al-Ilmiyah, [tth]), h. 501
[9] Sebagai
bukti ke-wara’-an dan ketaqwaannya beliau pernah berkata ( لا اعلم فى مالي درهما من حرام ولا
شبهة ) Lihat. Muhammad
Muhammad abu Syuhbah, fi Rihab al-Sunnah al-Kutb al-Sihhah
al-Sittah, ([t.kt]: Silsilah al-Buhuts al-Islâmiy, 1995), h.57-58
[10]
Al-‘Asqalâniy, Op Cit, h. 640
[11] Saya
telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, Bashrah empat kali, dan bermukim
di Hijaz tidak kurang dari enam tahun, dan tidak dapat dihitung lagi berapa
tahun saya pergi ke Kufah dan Baghdad bersama para ahli hadîts. Lihat.
Abu Syuhbah, Op Cit, h. 60
[12]
Diantara sifat yang mesti dimiliki seseorang, sehingga ia dapat dikatakan
seorang imam hadîts adalah: a. Menghafal hadîts,
baik yang Shahîh maupun yang dhâ’if, serta dapat
membedakan antara keduanya, b. Ia merupakan seorang ulama lagi faqih
(memahami Sunnah dan atsar), c. Mengetahui secara luas dan
mendalam keadaan para perawi, sehingga dapat membedakan mana perawi yang adil
dan mana yang terkena jarah. d. Bertaqwa, zuhud, memiliki akhlak yang
baik serta jiwa yang bersih. e. Berani menampakkan kebenaran, serta tidak menghiraukan
celaan orang lain seperti di hadapan penguasa dan ahli bid’ah., f.
adalah sosok yang jenius dan memiliki intelektual tinggi. Lebih lanjut lihat,
Rif’at Fauzi abd al-Muthalib, Kutub al-Sunnah Dirasah Tautsiqiyah, (Qahirah:
Maktabah al-Khaniji, 1979), Cet. I, h. 55
[13]
Kecerdasan beliau semenjak kecil ini sudah tampak semenjak ia belajar di kuttab.
Di mana meski pada waktu itu ia baru berusia 10 tahun ia telah mulai
menghafal hadîts, beliau berkata: ألهمت
حفظ الحديث وأنا فى الكتاب , Rif’at
Fauzi, Loc Cit
[14] Abu
Syuhbah, Op Cit, h. 68
[15] Riwayat yang dimaksud adalah riwayat yang
disampaikan Ahmad Ibn ‘Adiy: Suatu ketika al-Bukhâriy datang ke Baghdad.
Para ulama hadîts yang ada di sana mendengar kedatangannya dan
ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadîts
yang telah dibolak-balikkan isi hadîts dan sanadnya, matan
yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar
dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadîts ini dibagi kepada
10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadîts yang berbeda
kepada Bukhâriy. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan
kepadanya tentang hadîts yang mereka bawakan, maka al-Bukhâriy menjawab
dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini
selesai, maka gantian al-Bukhâriy yang berkata kepada 10 orang tersebut satu
persatu, “Adapun hadîts yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadîts
yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang
tersebut. Semua sanad dan matan hadîts beliau kembalikan
kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadîts yang telah
dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun
mengakui kehebatan hafalan Bukhâriy dan tingginya kedudukan beliau. Hadîts
ini juga dikutip oleh Ibn Shalah. Lebih lanjut lihat: Badruddîn abiy Abd Allâh
Muhammad ibn Jamâluddîn abd Allâh ibn Bahâdir al-Zarkâsy al-Syafi’iy, Al-Nukt
‘ala Muqaddimah Ibn shâlah (Riyadh: Maktab Adhwa’ alSalaf, 1998),
Juz II, h.304 dan Al-‘Asqalâniy, Op Cit, h. 652
[16] Ibid,
h. 641
[17] Ibid
[18] Ibid,
h. 656
[19] Ibid,
h. 650
[20] Rif’at
Fauzi, Op Cit, h. 58
[21] Ibid
[22] Muhammad
‘Abd al-‘Azis al-Haziliy, Miftah al-Sunnah au Tarikh Funun al-Hadits, (Beirut:
Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, [t.th]), h. 42
[23]
Mengenai karya beliau dapat dilihat Subh al-Shâlih, Op Cit, h. 397
[24]
Al-‘Asqalâniy, Op Cit, h. 646
[25] Ibid
[26] Ibid
[27] Ibid, h. 647
[28] Ibid
[29] Ibid
[30] Ibid,
h. 650
[31] Rif’at
Fauzi, Op Cit, h. 55 - 60
[32] Abu
Syuhbah, Op Cit, h. 63-66
[33] Ibid
[34] Beliau
adalah guru paling tama dari Imam al-Bukhârîy yang merupakan Ustadz amir
al-Mukminin di bidang hadîts, nama aslinya adalah Ishaq ibn Ibrâhîm
al-Hanzhaliy. Lihat. Khalil Ibrâhîm Mulakhatir, Makanah al-Shahîhain, (Qahirah:
al-Mathba’ah al-‘Arabiyah al-Hadîtsiyah, 1402H), h. 34
[35] Abu Syuhbah, Op Cit, h. 75-76, di
dalam kitab lain disebutkan perkataan Ishaq ibn Rahawaih adalah
لو أفردتم
صحيح سنة النبى صلى الله عليه وسلم با لتصنيف
Lebih lanjut lihat: Sa’id
ibn ‘Abd Allâh al-Hamid, Manahij al-Muhadditsîn, (Riyadh:
Dar Ulum al-Sunnah, 1999), h.11
[36]
Sebagaimana yang dikutip oleh Mulakhatir dari kitab Hady al-Syariy, h. 7,
Lihat. Mulakhatir, Loc Cit
[37] Ini
dapat dilihat di dalam, Rif’at Fauzi, Op Cit, h. 63
[38] Bahkan
diterangkan sesuangguhnya Imam al-Bukhâriy Menyeleksi dari 600.000 hadits untuk
di tulis di dalam kitabnya. Adapun yang menjadi alasan beliau untuk tidak
memasukkan semuanya mengingat hal ini bisa menghabiskan waktu yang luar biasa
panjang. Mulakhatir, Op Cit, h. 35
[39] Ibid,
h. 35-36
[40] Ibid
[41] Satuhal
yang tidak boleh dilupakan, sebagai penegas sikap ilmiah al-Bukhariy, setelah
beliau menyelesaikan penulisan kitabnya beliau menyodorkannya kepada
ulama-ulama besr yang ada pada masanya seperti: Ibn al-Madiniy, Ahmad
ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’în dan ulama lainnya. Ibid, h. 38
[42] Kitab
yang dimaksud di sini adalah bab yang kita pahami di dalam sistematika
penulisan karya ilmiah. Sedangkan Istilah bab maksudnya adalah sub bab
di dalam pemahaman kita.
[43] Lihat
Abu Syuhbah, h
[44] Abu
Syuhbah, h95-96
[45] Lihat rif’at Fauzi, Op Cit, h. 65-67
[46] Dan
menurut Rif’at fauzi, sesuai dengan kritikan keduanya, akhirnya Al-Hakim
meralat pernyataanya tersebut lewat kitab Mustadrak-nya, Ibid, h.
70
[47] Ibid
[48] Ibid,
h. 71-73
[49] Ibid,
h.73-76
[50] Ibid
[51] Abu
Syuhbah, Op Cit, h. 96-102
Tidak ada komentar:
Posting Komentar